Bung Royo; Ini Pengalaman saya jadi Presma Untirta 2008

Bung Royo; Ini Pengalaman saya jadi Presma Untirta 2008

0 1814
Bung Royo

Bidikutama.com, Mantan presiden mahasiswa (PRESMA) Untirta periode tahun 2008 Raden Roni Suroyo Junior,berbagi cerita tentang pengalamannya menjabat  sebagai  Presma. Visi dan misi selama menjabat menjadi presmayaitu Aspiratif, komunikatif, Ilmiah dan Peduli.
“Saya menginginkan bagaimana Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) itu menjadi lembaga yang aspiratif,komunikatif, ilmiah dan lembaga yang peduli dengan visi itu. Saya berharap BEM punya strategi dan juga misi kedepannya bagaimana dapat menjadi aspiratif dan penyambung lidah mahasiswa dan BEM juga dapat menjaga harmonisasi antar mahasiswa untirta dengan rektorat, ormawa dan seluruh perangkat di untirta. BEM juga harusmenjadi lembaga yang ilmiah dan membuat kegiatan ilmiah dan BEM memiliki kegiatan peduli. Yang bisa menilai adalah orang lain bukan diri saya pribadi kalau berkaca dari laporan pertanggung jawaban (LPJ) ada beberapa kegiatan yang kita laksanakan dan beberapa menyatakan bahwa kegiatan itu telah berhasil.

Pertama kali saya menjabat sebagai Presma saya bisa disebut Presma pasca konflik, jadi sebelumnyaUntirta sedang mengalami konflik tahun di 2006-2007. Pada saat itu ramai-ramainya pada tahun 2007 di Untirta terjadi konflik antara capresma satu dengan capresma lainnya. Konflik berkepanjangan sehingga akhirnya tidak adaPresma di Untirta, yang ada adalah Presidium Mahasiswa Untirta yaitu kodrasa sembilan presidium, sehingga saat itu harmonisasi di Untirta sangat terganggu sekali dan pada saat itu saya menjabat sebagai ketua BEM FakultasPertanian. Kejadian itu menyebabkan nama Untirta menjadi kurang baik dimata mahasiswa, BEM Untirta sendiri dan dimata mahasiswa luar terutama mahasiwa yang ada di Banten.

Jadi kegiatan saya adalah membangun harmonisasi ormawa Untirta pasca konflik. saya mencoba bagaimana seluruh mahasiswa terutama ormawa Untirta agar lupa bahwa mereka pernah mengalami konflik. Awalnya saya membuat kegiatan kebersamaan, harmonisasi, mengadakan urung rembuk di awal-awal kepengurusan dan membuat kegiatan bacakan bareng di ormawa Untirta. Saat itu kita juga sempat mengajak temen-temen ormawa untirta seluruhnya dari ketua BEM, ketua DPM, ketua Himpunan dan ketua UKM kita boyong bersama ke jawa timur untuk megadakan study banding ke Unair, Unesa dan Unibraw. Kita ajak kesana sehingga terciptalah harmonisasi kebersamaan kerukunan antar ormawa, dari situlah mulai timbul kembali rasa semangat kebersamaan anggota ormawa yang sebelumnya sempat ribut dan cukup keras hati itu.

Pasca itu karna banyak kegiatan harmonisasi bersama teman yang berjuang, saya juga sebagai Presma menguatkan nama Untirta di kancah Banten dan nasional alhasil kita berhasil menjadi pusat informasi di  dari BEM Se-Banten, yang mana pada saat itu ternyata BEM Se-Banten itu sendiri dalam posisi yang memang harus diharmonisasikan dan dikuatkan sehingga kita dapat menodorong agar BEM Banten menjadi lebih harmonis. Pada saat itu BEM Banten sedang mengalami persoalan, kita saat itu mencoba mengharmonisasi BEM Se-Banten dengan cara tidak memilki pemimpin yang ada hanyalah pusat informasi BEM Se-Banten, dimana pusat informasinya adalah Untirta dan saya sebagai Presma yang mengkordinasinya. Harapan disitu tercipta bahwa tidak ada kepemimpinan BEM Banten yang ada adalah kepemimpinan bersama, dan saat itu harmonisasi menjadi lebih terjaga dan lebih rukun.

Saat itu juga kita cukup kuat dalam penyampaian aspirasi mahasiswa dihampir seluruh kebijakan yangdikeluarkan rektorat. Kebetulan pada saat itu Prof.Rahman dilantik sebagai Rektor Untirta beberapa bulan kemudian saya dilantik menjadi Presma Untirta. sejak hari itu kita ikut mengawal bagaimana Prof.Rahman menjadirektor, beberapa kegiatan kita kawal, karna Prof.Rahman masih baru sehingga kita kawal betul kebijakannyaterutama jika ada beberapa kebijakan yang menurut kami saat itu menyimpang dan tidak pro terhadap mahasiswa, akhirnya kami sering mendorong dan sering kami demonstrasi saat itu.

Beberapa kegiatan dan kebijakan yang masih saya ingat adalah tentang kebijakan SMUK. SMUK itu semacam penerimaan mahasiswa baru yang ada di Untirta, tapi uniknya penerimaan mahasiswa baru saat itu menggunakan jalur khusus, jadi tes nya mirip seperti tes non reguker (NR) lokal, tapi mereka dijadikan mahasiswa reguler, tetapi disayangkan saat itu tidak dilihat dari nilai tertinggi tapi sumbangan tertinggi yang diberikan. Saat itu kita melihat pendidikan seperti dijadikan ajang tawar menawar, kami waktu itu mendorong dengan sangat kuat agar hal itu tidak terjadi, tetapi kebijakan itu sudah dibuat tetapi kami dorong terus dan akhirnya terjadilah beberapa hal yang menyimpang jadi banyak mahasiswa yang diterima karna nilai tinggi tetapi cenderung karna mereka memilki sumbangan yang besar dan itu kami dorong terus sampai ke Direktorat Jendral kami melaporkan kegiatan itu danakhirnya SMUK tidak ada lagi di Untirta.

Setelah itu juga kami membuat dasar-dasar kegiatan seperti dibidang kaderisasi kami mendorong undang-undang (UU) kaderisasi karena BEM berhak mengusulkan UU melalui menteri kaderisasi untuk menyusunitu lalu didorong ke DPM dan MPM untuk disahkan UU tersebut. Alhasil  kami juga berhasil membuat LatihanKepemimpinan (LK) tingkat 3 yang pertama, mendorong gerakan anti korupsi dan kita bekerjasama dengan KPK membuat lembaga anti korupsi yang bernama Gerakan Anti Korupsi (Gerasi)  dan sampai saat ini masih ada diUntirta.  Kami juga menampung kreatifitas mahasiswa baru dulu namanya Pejuang Pembela Almamter (Panter) dan sekarang muncul yang mirip tapi lebih terorganisir dengan baik dengan nama Serikat Eksekutif Mahasiswa Untirta(Semut).

Saya tidak bisa menilai diri saya sendiri dikatakan berhasil atau tidak tapi yang jelas masyarakat mahasiswa itulah yang bisa melihat berhasil atau tidaknya. Sebagai gambaran pada saat laporan pertanggung jawaban (LPJ)seluruh fraksi di MPM menerima laporan saya dan teman-teman tanpa satupun ada yang menolak LPJ itu. Sebenarnya banyak sekali kendalanya, tidak  semua pengurus kompak sampai akhir tapi itu menjadi suatu kendala yang juga ada di kepengurusan lainnya, sehingga mempengaruhi kinerja dan kurang dapat melaksanakan kegiatan yang baik. Cara mengatasinya sering mengadakan diskusi dalam BEM untuk internal dan membuat kegiatan bersama terus, tapi tetap saja tidak semua ikut.

Pada saat konflik tahun 2007 terjadi para ketua-ketua BEM yang ada di Untirta dari setiap fakultas itu menjadi BEM yang sangat kompak. Kita sering membahas bagaimana solusi permasalahan Presma kita yang ada di Untirta, akhirnya ketua BEM itu sering berkumpul, berdiskusi, dan ikut mendorong kebijakan dari rektorat. Kita jugamembuat beberapa kali aksi dan audensi ke rektorat tentang menolak kebijakan rektorat, karena kekompakan kita yang luar biasa akhirnya menghasilkan beberapa ketua BEM disitu mencoba berdiskusi dengan harapan ada salah satu diantara kita yang bisa menjadi presma Untirta hari itu. Karena kita menginginkan jangan sampai Untirta yang ada konflik pada tahun 2007-2008 terjadi kembali. Akhirnya waktu itu dimotori oleh ketua BEM FISIP yaitu Fikri mencoba mendorong saya menjadi  calon presma Untirta. Saudara Fikri-lah yang mengatur mengambilkan berkas dan akhirnya ketua BEM Ekonomi, BEM Hukum, BEM FKIP dan BEM  Teknik telah sepakat untuk mendorong saya dan akhirnya ketua BEM itu menjadi tim sukses saya untuk menjadi presma. Harapannya kita bisa menjagaharmonisasi mahasiswa Untirta dan juga bisa mengadvokasi kebijakan dari rektorat yang tidak pro terhadap mahasiswa .

Saya memberi pesan atau masukan kalau ingin atau sudah menjadi Presma anda harus punya visi yangjelas , harus punya tujuan yang jelas mau dibawa kemana UNTIRTA itu. Jangan  banyak membuat kegiataninsidental tanpa BEM itu memilki visi dan misi tujuan yang tidak jelas, bikin event sekedarnya bikin event yang ada didepan mata yang asik lagi dibikin tapi tidak ada program yang menjurus ke kemajuan UNTIRTA. Jadi harapannyaPresma kedepan memiliki tujuan yang jelas lalu bagaimana dapat menjadi penyambung aspirasi mahasiswa. Kalau ada aspirasi mahasiswa Presma dapat menjadi penyambung lidah dan menjadi pendorong kebijakan itu jangan sampai tidak pro pada mahasiswa. Presma juga harus dapat menjadi penyambung aspirasi masyarakat Banten ke pemerintah Provinsi Banten agar kita sebagai mahasiswa memiliki kontribusi yang jelas pada pembangunan daerah kita dan juga pembangunan nasional. Presma juga membuat kegiatan yang memang dibutuhkan oleh mahasiswa jangan hanya kita membuat kegiatan yang banyak ceremony.

Hari ini saya lihat mahasiswa banyak membutuhkan kegitan ilmiah seperti bagaimana pelatihan jurnal karna memang semua mahasiswa harus memiliki jurnal lalu pelatihan keprofesian. Sebagai presma harus bisa mendorong itu dan kita yang mengkoordinasinya,  Harus menjadi pejuang bagi aspirasi mahasiswa. Presma itu jadi pimpinan dari seluruh mahasiswa, sedangkan ada atau tidak visi yang bersama ingin dicapai mahasiswa bagaimanaPresma bisa membuat itu jangan sampai ormawa, UKM dan BEM Fakultas berjalan sendiri. Tanpa ada visi dan tujuan bersama harus ada tujuan yang coba dibangun, Presma harus menjadi nahkoda untuk tujuan bersama yangdisepakati dan berjuang untuk itu. Jadi Presma tidak butuh banyak event yang repot tapi dapat membuat event yang memang krusial dan penting. Hanya memang harus dilakukan oleh Presma atau BEM UNTIRTA yang bisa membuat itu untuk kegiatan akademik dan bisa didorong oleh UKM. Untirta memiliki 1001 macam masalah minimal 1 masalah terselesaikan, jangan sampai dari 1001 masalah tersebut akhirnya 1 pun masalah tidak ada yang selesai”.

Berikut tips agar terpilih menjadi presma yang disampaikan Raden Roni Suroyo Junior :

- Anda harus bisa memperkenalkan diri anda dan anda juga harus  memilki suatu konsep  yang jelas, dan dapat mensosialisasikan konsep itu dengan jelas anda bisa      menjadi Presma.

- Jadilah orang yang apa adanya tidak perlu menjadi orang lain, dan memilki ciri khas sendiri.

- Banyak belajar, bersosialiasi dan berdiskusi.

- Ikut seluruh kegiatan BEM UNTIRTA punya visi yang jelas.

SIMILAR ARTICLES

NO COMMENTS

Leave a Reply