Nenek Maspatum, 40 Tahun Jaga Perlintasan Kereta Tanpa Palang

Nenek Maspatum, 40 Tahun Jaga Perlintasan Kereta Tanpa Palang

0 2165
Hujan di malam hari tak menyurutkan niat Maspatum dalam menjaga pintu perlintasan kereta api tanpa palang di Kampung Kemang Pusri, Kota Serang.(Bidikutama)

Bidikutama.com – Maspatum, di usia yang sudah memasuki senja tak membuat dirinya mengeluh. Setiap pagi wanita berusia 70 tahun ini sudah duduk di depan halaman rumahnya yang hanya berjarak tiga meter dari rel kereta api. Nenek ini secara sukarela menjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Kampung Kemang Pusri, Kota Serang.

Empat puluh tahun lamanya Maspatum sudah menjaga secara sukarela. Dirinya merasa cukup berterimakasih kepada pihak Perusahaan Kereta Api Indonesia yang memberinya izin mendirikan rumah di samping rel kereta api. Sebagai rasa syukur itulah Nenek ini merasa berkewajiban menjaga keselamatan para pengendara yang melintasi rel kereta tanpa palang itu.

“Kurang lebih sudah empat puluh tahun, tidak ingat persisnya. Nenek membalas kebaikan hanya bisa dengan cara ini saja, karena pihak perusahaan kereta sudah kasih izin bangun rumah di pinggir rel ini,” ujarnya saat ditemui ketika menjaga perlintasan kereta api.

Nenek Maspatum.(BU)
Nenek Maspatum.(Bidikutama)

Hanya bermodalkan sebuah bendera kecil berwarna merah dan tanda berbentuk persegi enam bertuliskan stop, sang nenek dengan sigap memberi  tanda itu kepada pengendara yang biasa melewati lintasan rel kereta, untuk memberitahu bila akan ada kereta yang akan melintas.

“Inisiatif nenek untuk membantu sebagai pengganti palang rel kereta, namanya juga sesama manusia. Nenek mah ikhlas buat lakuin itu, alhamdulillahnya tapi ada aja orang yang kasih nenek uang, tapi kalau enggak ada, ya gak mau minta nenek mah. Sampai saat ini nenek percaya aja sama gusti Allah yang bakal bantu kita,” ucapnya.

Wanita yang mempunyai tiga orang anak ini bercerita, saat suaminya belum meninggal ada orang menawarkan tugas kepada mendiang suaminya. Pekerjaan tersebut untuk menjaga dan memberi peringatan jika ada kereta melintas dengan dibayar sebesar Rp 15.000,- per bulannya. Namun kala itu mendiang suaminya menolak dengan alasan terlalu besar tanggung jawab yang harus ditanggungnya.

“Uang Rp 15.000,- rupiah tidak ada apa-apanya dibanding tanggung jawab yang ditanggung, karena urusannya dengan nyawa manusia, risiko yang ditanggung terlalu besar,” kata perempuan itu sambil mengingat masa lalunya.

Walaupun sepakat tidak menerima uang itu, tapi Maspatum dan mendiang suaminya kala itu tetap berkomitmen untuk memberikan peringatan kepada pengendara setiap kali kereta akan melintas.

Nenek Maspatum ketika menjaga pintu perlintasan kereta api di Kampung Kemang Pusri, Kota Serang.(BU)
Nenek Maspatum ketika menjaga pintu perlintasan kereta api di Kampung Kemang Pusri, Kota Serang.(Bidikutama)

Dalam melakukan kegiatannya Maspatum tak mengenal lagi siang ataupun malam, hingga jadwal kereta melintas pun dia sudah hafal betul dikepalanya. Tinggal puluhan tahun di pinggir rel kereta api membuat Maspatum mempunyai feeling tersendiri jika kereta akan melintas. Dalam sehari lebih dari lima kereta penumpang termasuk kereta batu bara melintas di perlintasan tersebut.

“Kalau jadwal kereta sudah hafal cuma tidak seperti zaman dahulu, kalau sekarang waktu kereta lewat dengan jadwal suka agak meleset sedikit. Makanya kalau kereta sudah dekat nenek suka lari dari dalam rumah sambil teriak ngasih tahu kendaraan yang mau lewat, kadang-kadang agak repot juga namanya udah tua,” ungkapnya diiringi dengan ketawa kecil.(Rizhar/BU)

SIMILAR ARTICLES

NO COMMENTS

Leave a Reply