Turun Temurun Melestarikan Wayang Garing

Turun Temurun Melestarikan Wayang Garing

0 1823
Bapak Kajali saat menjadi dalang di pertunjukan Wayang Garing.

Bidikutama.com – Banten merupakan wilayah dengan sejuta potensi, sejuta keindahan dan sejuta ragam. Segala keunikan yang Banten miliki membuatnya berbeda dari wilayah-wilayah lain di Indonesia. Salah satu kekhasan yang dimiliki Banten adalah kebudayaan Wayangnya, yaitu Wayang Garing yang merupakan jenis wayang asli Banten.

“Wayang garing adalah wayang kulit, dinamakan garing karena tidak ada gamelan tidak ada pesinden karena itu dia main seorang diri” Ujar Gita (22) Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Saat ini, jumlah pendalang Wayang Garing tidak tersisa banyak, salah satunya adalah Kajali yang tinggal di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang.

Menurut warga sekitar desa Mandaya, Kajali menekuni profesinya sebagai Pendalang Wayang Garing sudah sangat lama sekali, “Kayanya sebelum saya lahir pun, pak jali udah ngewayang.” Ujar warga saat dimintai keterangan mengenai bapak Kajali. Selain itu, Bapak yang setiap harinya mementaskan Wayang Garing dari satu tempat ke tempat lainnya ini merupakan pendalang turun temurun. “Bapak itu bisa dibilang pewayang Turun Temurun, bapak dapat ilmu ngewayang dari orangtuanya karena orangtuanya dulu pun pewayang.” Ujar Afendi, anak kandung dari Kajali.

Berkat kepiawaiannya bermain Wayang Garing, tidak jarang Kajali diminta untuk mengisi acara-acara tertentu. Bahkan akhir-akhir ini, Kajali kerap diangkat oleh beberapa media yang ingin mengangkat tema Wayang Garing. “dulu bapak pernah di datengin sama salah satu perguruan tinggi negeri dari Bandung, beberapa dari media swasta, bahkan pada akhir tahun 2013 kemarin ada televisi swasta yang ngeliput bapak main Wayang.” Ujar Afendi sambil memperlihatkan beberapa kenang-kenangan dari institusi terkait.

Meskipun demikian, bukan berarti kehidupan bapak berusia 57 tahun ini bisa dikatakan layak. Gita yang sempat memperlihatkan film buatannya tentang Kajali, menceritakan bagaimana kehidupan sang pendalang tersebut. Kondisi rumah yang masih banyak bocor, penghasilan yang tidak menentu, apalagi harus berbicara tentang perhatian dari pemerintah. Film yang melibatkan banyak pihak tidak terkecuali kaum pelajar ini Gita buat tidak hanya untuk menceritakan kehidupan sang dalang, tetapi juga agar bisa ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan Wayang Garing. “Saya ingin mencoba ikut melestarikan dan memperkenalkan wayang garing dengan melibatkan anak sekolah jadi audiens sehingga ada perkenalan dan apresiasi anak sekolah sehinggga saya harap bisa ikut melestarikannya.”

Terakhir, Mahasiswa semester 7 ini memberikan saran kepada masyarakat Banten agar lebih peka terhadap kebudayaan, “Harus peka terhadap kesenian karena kesenian adalah identitas kita.” Ujarnya (Magang/BU)

SIMILAR ARTICLES

NO COMMENTS

Leave a Reply