• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Sabtu, 6 Desember 2025
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Akademik Opini

Banjir Sumatra, Bencana Alam atau Akibat Kebijakan yang Lalai?

30 Nov. 2025
pada Opini
0
Banjir Sumatra, Bencana Alam atau Akibat Kebijakan yang Lalai?
164
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Pemandangan pilu menyelimuti Sumatra, banyak rumah-rumah yang tersisa hanya atap, jalan nasional yang terbelah oleh longsoran tanah, serta ribuan wajah penuh kepedihan di pengungsian. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Utara bukan sekadar berita singkat, melainkan tragedi kemanusiaan dan ekologis yang menyisakan luka mendalam. Minggu (30/11)

Besarnya dampak mulai dari korban jiwa, ratusan ribu warga yang mengungsi, hingga kerugian triliunan rupiah memunculkan kritis. Apakah ini sekadar takdir alam atau justru buah pahit dari pembangunan yang memalingkan muka dari kelestarian lingkungan?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa curah hujan ekstrem yang melanda Sumatra menyerupai intensitas banjir Jakarta pada tahun 2020, tetapi menyalahkan cuaca semata ibarat menyalahkan korek api atas kebakaran hutan sambil mengabaikan tumpukan bahan bakar kering di sekitarnya. Hujan hanyalah pemicu, sedangkan akar masalahnya adalah kerentanan ekologis yang telah lama diciptakan.

Di balik air bah yang menggenangi pemukiman dan sawah, tersimpan narasi lebih kelam tentang pembangunan yang buta ekologi sebagaimana disorot Kompas.com. Sementara laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menguatkan dengan data mengenai ledakan izin ekstraktif, puluhan juta hektar konsesi tambang batubara, emas, dan perkebunan sawit telah menggerogoti hutan lindung dan daerah tangkapan air di sepanjang Bukit Barisan, nadi penjaga keseimbangan alam Sumatra.

Setiap kali izin baru dikeluarkan dan hutan dibuka, kita sejatinya mencabut akar-akar pepohonan yang berfungsi sebagai penahan tanah dan spons raksasa penyerap air, sehingga ketika hujan deras tiba tidak ada lagi yang menahan. Air tidak lagi meresap namun, langsung meluncur deras dari ketinggian, menghanyutkan tanah, lumpur, dan material tambang hingga berubah menjadi banjir bandang dan longsor yang mematikan, ini bukan lagi sekadar banjir air, melainkan banjir sampah kebijakan yang telah lama dipendam.

Pada ironi yang menyakitkan, di tengah penderitaan korban yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan untuk tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional dengan alasan kapasitas daerah dinilai masih mampu, sebagaimana dilaporkan Detik.com. Keputusan tersebut seakan menutup mata terhadap skala kerusakan sistemik yang terjadi.

Bagaimana mungkin bencana yang melintasi batas administratif beberapa provinsi dan berakar pada kebijakan nasional justru diserahkan kepada kapasitas daerah semata, sebuah logika yang terasa sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab dan menimbulkan rasa ketidakadilan seperti disuarakan korban dalam laporan BBC Indonesia. Keputusan ini bukan hanya soal bantuan logistik, melainkan juga pengakuan bahwa negara harus hadir untuk menangani masalah yang membahayakan masa depan bangsa.

Banjir di Sumatra merupakan cermin retak yang harus diperhatikan oleh semua pihak, sebagaimana diserukan Jambilink.id, ini adalah momen untuk introspeksi diri. Kita tidak bisa terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama sambil berharap hasil yang berbeda.

Banjir akan surut dan roda kehidupan di Sumatra pelan-pelan akan kembali berputar, tapi akankah kita kembali pada kebiasaan lama yang justru mengundang bencana berikutnya? Jangan biarkan penderitaan dari ribuan saudara kita ini sia-sia, menguap menjadi sekadar memori pahit.

Titik kritis ini menentukan apakah kita akan mewariskan tanah yang subur atau lahan yang kritis kepada generasi mendatang. Pilihannya sederhana namun penuh konsekuensi, melanjutkan siklus eksploitasi yang rakus atau memutus mata rantainya dengan membangun harmoni baru bersama alam, semua keputusan ada di tangan kita.

 

Penulis : Rafi/Mahasiswa Prodi Pendidikan Vokasional Teknik Mesin Untirta

Editor : Nisa/BU

Tag: Banjirbanjir bandangBanjir SumatraBencana AlamkebijakanopiniTanah Longsor
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Tampilkan Proyek Inovatif, FKIP Untirta Selenggarakan Gelar Karya PLPH

Pos Selanjutnya

Untirta Lepas 649 Wisudawan pada Wisuda Gelombang VII

BERITA TERKAIT

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

4 Des. 2025
79
Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

3 Des. 2025
149
Pos Selanjutnya
Untirta Lepas 649 Wisudawan pada Wisuda Gelombang VII

Untirta Lepas 649 Wisudawan pada Wisuda Gelombang VII

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Pesan Rektor Untirta Saat Pelantikan Dekan, Pemimpin Harus Berlaku Jujur

Pesan Rektor Untirta Saat Pelantikan Dekan, Pemimpin Harus Berlaku Jujur

6 Des. 2023
26
Kartu Perpustakaan FH Berbiaya? Ini Penjelasannya

Kartu Perpustakaan FH Berbiaya? Ini Penjelasannya

10 Sep. 2019
73

Berita Populer

Untirta Tambah Area Parkir Baru, Tuai Respon Positif Mahasiswa

Untirta Tambah Area Parkir Baru, Tuai Respon Positif Mahasiswa

18 Jul. 2025
672
Banjir Sumatra, Bencana Alam atau Akibat Kebijakan yang Lalai?

Banjir Sumatra, Bencana Alam atau Akibat Kebijakan yang Lalai?

30 Nov. 2025
164
Dinamika Regenerasi dalam Organisasi Kampus

Dinamika Regenerasi dalam Organisasi Kampus

3 Des. 2025
160
Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

3 Des. 2025
149
Satu Paslon Gugur, KPUM Untirta Tetapkan Aklamasi

Satu Paslon Gugur, KPUM Untirta Tetapkan Aklamasi

6 Des. 2025
97
Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

4 Des. 2025
79

Komentar Terkini

  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Babet pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio