Bidikutama.com – Posisi geografis Indonesia yang sangat luas menciptakan keragaman dalam masyarakatnya, yang tampak jelas dari bahasa, adat, dan budaya yang mereka pertahankan sebagai identitas. Namun, sikap represif sebagian masyarakat terhadap perubahan sering kali menjadi penghambat kemajuan. Senin (9/12)
Masyarakat Indonesia sering kali menganggap hal-hal baru sebagai anomali terhadap budaya mereka. Sikap ini muncul karena keterikatan yang kuat terhadap adat istiadat, yang mendorong penolakan terhadap perubahan meskipun hal tersebut juga bagian dari Indonesia.
Pelestarian adat istiadat bahkan diatur dalam kebijakan resmi, seperti Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 yang diamandemen pada 2014. Peraturan ini mewajibkan penggunaan bahasa daerah di lingkungan instansi pemerintahan dan masyarakat.
Namun, upaya pelestarian budaya melalui bahasa daerah sering kali menimbulkan dilema. Bahasa daerah menjadi alat efektif menjaga budaya lokal, tetapi di wilayah semi-terisolasi atau terisolasi, hal ini menghambat penguasaan bahasa Indonesia.
Contohnya terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana 1,3 juta anak belum mampu berbahasa Indonesia saat memasuki sekolah dasar. Mereka hanya mengenal bahasa ibu, sehingga bahasa Indonesia terdengar asing bagi mereka.
Fenomena serupa juga terjadi di Banten, terutama pada kalangan lansia dan generasi muda yang terbiasa menggunakan bahasa daerah. Lingkungan sekitar yang dominan dengan bahasa daerah berperan besar dalam keterbatasan ini.
Ironisnya, penggunaan eksklusif bahasa daerah malah dapat menimbulkan masalah serius. Keterbatasan memahami bahasa Indonesia berpengaruh pada kemampuan literasi masyarakat, khususnya dalam mengenal huruf dan angka.
Data dari Antaranews menunjukkan bahwa pada 2019, sekitar 46,83% masyarakat Indonesia memiliki kemampuan literasi rendah. Bahkan pada 2024, ditemukan siswa SMP di Jombang yang masih tidak bisa membaca.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana Indonesia dapat mencapai visi generasi emas jika masyarakatnya kesulitan mengenali huruf? Minimnya kemampuan membaca jelas berdampak pada pemahaman informasi, yang berisiko memperparah kesenjangan literasi.
Penulis : Ipah Alya Fadhillah/Mahasiswi Ilmu Komunikasi Untirta
Editor : Ardhilah/BU











