Bidikutama.com — Kebijakan penyesuaian pembelajaran melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Nomor 2 Tahun 2026 menghadirkan fleksibilitas sebagai solusi atas perubahan zaman. Skema pembelajaran jarak jauh atau disebut (PJJ) hingga kerja hybrid bagi dosen ditawarkan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah perkembangan teknologi. Sayangnya, diksi fleksibilitas ini tak semerta merta dapat dinilai sebagai inovasi.
Kewenangan secara pelaksanaan diserahkan kepada masing-masing kampus, tetapi muncul ketimpangan kapasitas yang tidak bisa diabaikan. Kampus dengan infrastruktur kuat dapat beradaptasi lebih cepat, sementara kampus dengan keterbatasan justru menghadapi beban tambahan.
Dalam praktiknya, pembelajaran daring tidak sekadar memindahkan kelas ke layar. Interaksi akademik cenderung melemah, diskusi kehilangan kedalaman, dan mahasiswa berpotensi menjadi penerima pasif. Dilihat dari persoalan selama pandemi.
Di sisi lain, kebijakan ini diinilai membawa semangat efisiensi melalui pengurangan mobilitas dan optimalisasi teknologi. Namun, pendidikan tinggi tidak dapat disamakan dengan sistem kerja biasa. Proses pembelajaran bergantung pada interaksi langsung, pertukaran gagasan, serta relasi sosial yang membentuk pola pikir mahasiswa. Masalah lain muncul dari ketimpangan akses. Kebijakan ini menunjukkan kecenderungan pendidikan tinggi yang semakin pragmatis, dengan efisiensi sebagai orientasi utama.
Padahal, pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, dan interaksi sosial. Fleksibilitas seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Seringnya, fleksibilitas dijual sebagai kemajuan, tapi tak selalu membawa kita lebih dekat pada kualitas.
Tanpa kesiapan infrastruktur dan pendekatan yang seimbang, kebijakan ini berisiko menggeser esensi pendidikan itu sendiri. Pada akhirnya, arah kebijakan ini akan menentukan masa depan pendidikan tinggi. Kampus dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan ruang pembelajaran yang hidup atau bertransformasi menjadi sistem yang efisien, tetapi berpotensi kehilangan kedalaman makna.
Penulis: Moses Alvaro Girsang/Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta
Editor: Rhamaditya/BU











