Bidikutama.com – Kehidupan kampus kian hari semakin mencekam disebabkan oleh banyaknya perubahan kebijakan ataupun situasi politis. Walaupun hal tersebut sudah terjadi di beberapa kampus di Indonesia, tetapi ada yang jauh lebih mencekam dan menakutkan yaitu kondisi yang disebabkan oleh krisis kesadaran etis. Minggu (8/5)
Para intelektual kampus sering mengkhawatirkan kondisi oportunistik dalam lingkungan politik nasional, yang ditandai dengan tidak adanya partai politik yang berideologi ekstrem. Berbagai literatur juga mencatat bahwa sikap oposisi yang berani kini semakin jarang diucapkan dan dipraktikkan dalam pengambilan keputusan, baik oleh partai maupun individu para politisi.
Keadaan ini terjadi karena haluan yang diambil tidak didasarkan pada kesadaran etis. Kesadaran etis mengarahkan individu atau kelompok untuk mempertimbangkan benar dan salah, sementara sikap oportunistik lebih menekankan pada pertimbangan untung dan rugi.
Saat ini, sudah bukan hal tabu jika gerakan politik praktis tidak lagi menggunakan kompas kesadaran etis. Namun yang lebih mengkhawatirkan, sikap oportunistik ini mulai merambah ke lingkungan kampus, di mana gaya tersebut ditiru, bahkan sering kali berkembang menjadi mekanisme budaya yang dianggap wajar dan dijalani secara tanpa sadar.
Hal ini seperti proses bernapas sehari-hari yang tak disadari mekanismenya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, akan terlihat bagaimana idealisme mahasiswa menjadi tumpul dan mereka terdorong bertindak realistis berdasarkan pertimbangan untung-rugi, terutama bila dianalisis dengan pemikiran kritis.
Keadaan ini dibuktikan dengan banyak mahasiswa yang memilih mengembangkan kompetensinya untuk kepentingan pribadi yang menguntungkan untuk mencapai prospek kerja. Sekilas hal tersebut adalah positif karena memang keadaan ini membius mahasiswa untuk meninggalkan poin penting dari pengamalan nilai-nilai kemahasiswaan yang harusnya sejalan dengan arus idealisme.
Mahasiswa cenderung menerima peningkatan kompetensi dengan cara apapun, termasuk mengabaikan kepentingan masyarakat luas, kelompok termarjinalkan, dan berbagai perjuangan lainnya. Inilah yang disebut sifat oportunistik, di mana pertimbangan untung-rugi lebih dominan dalam diri mereka.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi politik nasional didukung oleh perilaku mayoritas mahasiswa yang bergeser dari idealisme ekstrem ke sikap oportunistik, fenomena ini membuat perjuangan mahasiswa menjadi tidak konsisten dan tebang pilih. Banyak organisasi kini mengabaikan kesadaran etis dalam pergerakan, selama aktivitasnya bisa menaikkan pamor organisasi dengan menggandeng tokoh terkenal, hal itu dianggap wajar, meski berarti memberi panggung bagi musuh rakyat maupun musuh dalam pergerakan mahasiswa.
Mahasiswa atau organisasi kadang memberikan ruang bagi pemangku kebijakan yang berkonflik dengan masyarakat untuk diskusi tanpa hasil nyata, hanya demi keuntungan organisasi, sehingga pergerakan jadi tidak konsisten. Tidak jarang, organisasi menerima bayaran untuk melakukan aksi demi keuntungan pihak tertentu, dengan dalih beroposisi, padahal motivasinya bukan karena penderitaan rakyat.
Selain itu, implikasi secara individu juga mengkhawatirkan, karena banyak mahasiswa yang terlibat dalam politik praktis demi keuntungan pribadi, beberapa bahkan rela menjadi tim sukses untuk mendukung praktik politik uang, yang dianggap hal biasa. Meski tidak bisa digeneralisasi, jika fenomena ini terus berlanjut tanpa refleksi kritis, kesalahan yang sama akan dianggap sebagai kebenaran baru, lagi-lagi semua ini terjadi karena pergeseran paradigma mahasiswa menuju sikap oportunistik.
Pelanggaran-pelanggaran ini menimbulkan sikap tidak konsisten dalam pergerakan mahasiswa, di satu sisi mereka turun ke jalan atas nama rakyat, namun di sisi lain ada yang membantu pejabat melenggang dengan cara inkonstitusional, bertentangan dengan ilmu yang dipelajari di kelas. Bukankah pejabat seharusnya paham pentingnya beroposisi? Dan mahasiswa juga tahu larangan keras untuk menjilat penguasa? Namun, beberapa mahasiswa bersikap tidak konsisten karena menganggap kedekatan dengan otoritas memudahkan meraih prospek kerja.
Mahasiswa harus segera kembali menggunakan kompas kesadaran etis agar tidak mengkhianati kepentingan rakyat dan pertimbangan benar dan salah harus menjadi dasar dalam bertindak, bergerak, dan berjuang. Mahasiswa perlu terus bersama rakyat untuk mempercepat perubahan yang lebih baik, karena perubahan itu tidak akan tercapai selama sifat oportunistik masih menguasai tindakan pergerakan, baik secara individu maupun kelompok.
Penulis: Ahmad Alimun Ali Musa Firdaus/Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Untirta
Editor: Raffa/BU









