• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Minggu, 11 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Akademik Opini

Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

3 Des. 2025
pada Opini
0
Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus
168
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Politik kampus selalu punya cerita yang terasa berulang, mahasiswa bicara tentang demokrasi, independensi, dan ruang dialog. Namun, realitanya banyak aktivitas mahasiswa yang justru bergerak di bawah bayang-bayang organisasi eksternal yang masuk terlalu jauh. Mereka hadir bukan sebagai mitra yang membangun, tapi sebagai kekuatan yang ingin mengatur, menekan, dan menentukan arah, seolah ruang gerak mahasiswa adalah perpanjangan wilayah kekuasaan mereka. Rabu (3/12)

Banyak kegiatan mahasiswa akhirnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh panitia yang bekerja. Ada suara-suara dari luar yang ikut mengatur isi, format, bahkan suasana kegiatan. Mahasiswa sudah menyusun konsep, menyesuaikan kebutuhan, dan merangkai rencana, tetapi keputusan akhir tetap tergantung pada bisikan pihak eksternal. Sehingga, panitia yang seharusnya mandiri dalam menentukan bentuk kegiatan malah diposisikan seperti operator, sedangkan orang yang tidak pernah muncul dalam proses merasa paling berhak menentukan.

Mereka yang mencoba menjalankan kegiatan dengan jujur sering kali harus berhadapan dengan tekanan tak kasat mata. Ada rasa takut menolak, takut dianggap tidak loyal, atau takut dicap tidak mendukung jaringan tertentu. Ruang yang seharusnya melatih keberanian justru menciptakan ketakutan terhadap kelompok yang merasa memiliki hak istimewa untuk ikut campur dalam aktivitas mahasiswa.

Ironisnya, anggota organisasi eksternal itu sendiri banyak yang bercerita tentang atmosfer yang tidak sehat, tentang lingkungan yang mencampur aduk urusan pribadi dan organisasi, tentang tekanan untuk menarik sebanyak mungkin orang ke dalam lingkaran. Setiap kritik dianggap pembangkangan dan setiap upaya menjaga jarak dianggap pengkhianatan.

Mahasiswa yang masuk dengan harapan belajar tentang kepemimpinan malah disuguhi kultur yang memaksa mereka tunduk pada hierarki yang tidak pernah ditulis, tapi sangat terasa. Cerita tentang dana semakin menambah daftar panjang problem yang tidak pernah selesai.

Setiap kegiatan selalu ada kabar bahwa anggaran tidak sampai, ada bagian yang hilang, atau ada orang yang merasa berhak mendapat porsi meski tidak pernah turun kerja. Panitia yang benar-benar bekerja dari pagi hingga malam sering harus menerima kenyataan bahwa jerih payah mereka tidak dihargai, sementara mereka yang berada di posisi tertentu otomatis mendapat jatah.

Lama-kelamaan mahasiswa menjadi kebal bukan karena setuju, tetapi karena terlalu sering melihat hal yang sama tanpa perbaikan. Politik kampus pun tampak gagal menjalankan fungsinya. Ruang yang semestinya menanamkan integritas dan keberanian berubah menjadi tempat di mana kepatuhan dan kedekatan dengan kelompok tertentu lebih dihargai. Ruang belajar membentuk mentalitas patronase, sementara organisasi berubah menjadi arena dominasi

Lalu, ketika mahasiswa baru masuk, mereka disambut oleh sistem yang sudah mapan. Sistem yang membuat mereka berpikir bahwa untuk bertahan, mereka harus mengikuti arus. Agar merasa aman, mereka harus diam. Untuk selamat, mereka harus dekat dengan yang punya pengaruh. Sikap kritis akhirnya dianggap gangguan, bukan bagian dari proses belajar.

Jika situasi seperti ini dibiarkan terus berulang, politik kampus tidak lagi menjadi tempat mahasiswa belajar mengenai demokrasi yang sehat. Namun yang tumbuh justru politik yang gelap, politik yang bergerak tanpa akuntabilitas, politik yang memanfaatkan kegiatan mahasiswa sebagai wadah ekspansi pengaruh. Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, pertanyaannya adalah berapa lama mahasiswa akan terus membiarkan pihak luar menentukan arah yang seharusnya menjadi hak mereka sendiri.

 

Penulis: Saeful Anwar/Mahasiswa Prodi Akutansi Untirta

Editor: Anggi/BU

Tag: DemokrasimahasiswaopiniOrganisasipolitikPolitik eksternalPolitik kampus
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Atap Kantin Sindangsari Bocor, Aktivitas Mahasiswa Terganggu

Pos Selanjutnya

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

BERITA TERKAIT

Denda Rp109 Triliun Belum Cukup Tanpa Reformasi Hukum Kuat

Denda Rp109 Triliun Belum Cukup Tanpa Reformasi Hukum Kuat

31 Des. 2025
36
Diagnosis Sistem Pendidikan Indonesia: Ketika Kepintaran Diutamakan, Karakter Dikesampingkan

Diagnosis Sistem Pendidikan Indonesia: Ketika Kepintaran Diutamakan, Karakter Dikesampingkan

18 Des. 2025
29
Pos Selanjutnya
Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

“Merah Putih One For All”, Dibajak Pun Tak Layak

“Merah Putih One For All”, Dibajak Pun Tak Layak

9 Agu. 2025
88
34 Mahasiswa Untirta Lolos Beasiswa Bank Indonesia Tahap 1 Tahun 2024

34 Mahasiswa Untirta Lolos Beasiswa Bank Indonesia Tahap 1 Tahun 2024

19 Mar. 2024
105

Berita Populer

Tragedi Kawin

Tragedi Kawin

20 Mei. 2022
3.3k
Resmi Dilepas! KKM Gelombang I 2026 Tekankan Dampak Nyata Mahasiswa

Resmi Dilepas! KKM Gelombang I 2026 Tekankan Dampak Nyata Mahasiswa

10 Jan. 2026
68
Kisah Hidup Buya Hamka Menurut Cerita Sang Anak Bungsu

Kisah Hidup Buya Hamka Menurut Cerita Sang Anak Bungsu

23 Nov. 2023
2.2k
Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

11 Apr. 2022
291
Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

5 Mei. 2024
4.2k
KPUM FKIK Resmi Tetapkan Pimpinan BEM Periode 2026-2027

KPUM FKIK Resmi Tetapkan Pimpinan BEM Periode 2026-2027

14 Des. 2025
52

Komentar Terkini

  • Informatika pada Tim PVTE FKIP Untirta Raih Top 5 Inovator Nasional
  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio