• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Selasa, 14 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Akademik Opini

Maraknya Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Indonesia

3 Apr. 2020
pada Opini
0
Maraknya Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Ilustrasi kekerasan. (Foto: lindungianak.com)

913
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Dewasa ini sering kita dengar banyak kasus tindak kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh beberapa oknum guru dan siswa, yang mana hal tersebut bisa mencederai citra pendidikan sendiri. Tindakan kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang kita semua inginkan karena seharusnya dunia pendidikan diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat secara edukatif.

Namun pada kenyataannya saat ini marak sekali kita dengar banyaknya kasus yang terekspos ke media tentang kekerasan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh oknum guru kepada siswa maupun oleh oknum siswa kepada guru. Di tengah-tengah budaya masyarakat Indonesia saat ini, hukuman yang melibatkan fisik dalam pendidikan di Indonesia dianggap wajar dan tidak menjadi masalah seperti yang sering terjadi dalam sekolah-sekolah kedinasan. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh senior pada para juniornya, dan tak ayal hal itu juga menyebabkan korban jiwa. Kegiatan OSPEK juga sering kali menjadi ajang para senior untuk menunjukan kekuasaannya, ditambah dengan acara bentak-bentakan yang dilakukan kepada para juniornya dengan dalih untuk melatih mental dan menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Padahal kekerasan tidak selalu dapat menyelesaikan masalah, justru kekerasan lebih sering menimbulkan masalah baru yang akhirnya menjadi tradisi dari satu angkatan ke angkatan lainnya, dan sering digunakan sebagai ajang balas dendam.

Ada beberapa contoh kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan, seperti yang terjadi pada tahun 2017 di salah satu sekolah yang ada di Kota Rangkasbitung, seorang guru melayangkan penghapus white board kepada salah satu siswanya sambil mengucapkan kata-kata kasar yang seharusnya tidak boleh diucapkan oleh seorang guru, yang mana sosok seorang guru ini adalah sosok yang digugu dan ditiru. Sangat disayangkan ketika hal ini dilakukan oleh seorang guru yang masih berada di lingkungan sekolah tersebut.

Lalu pada tahun 2019 kemarin, terjadi kasus pembunuhan di salah satu SMK di Kota Manado yang dilakukan oleh salah satu siswa terhadap gurunya, dan penyebab pembunuhannya hanya karena siswa tersebut tidak terima ditegur gurunya ketika sedang merokok. Di Jakarta Timur, seorang guru tega memukuli salah satu siswanya yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD), hingga menyebabkan memar di bagian mata kanannya. Di Bekasi, seorang guru memukuli sejumlah siswanya hanya karena mereka tidak memakai ikat pinggang.

Kasus di atas hanya merupakan segelintir kecil dari kasus kekerasan yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal itu mungkin saja terjadi karena kekerasan dalam dunia pendidikan memang sudah ada sejak dulu, namun yang membedakan hanya cara melakukan dan publikasinya saja. Ditambah sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung hanya mementingkan aspek kognitif atau pengetahuannya saja, tetapi mengabaikan aspek afektifnya, padahal aspek afektif itu tidak kalah pentingnya dengan aspek kognitif.

Siswa dituntut untuk memiliki nilai yang bagus dalam setiap mata pelajarannya dan mayoritas guru yang mengajar di sekolah tidak memedulikan proses yang dilalui siswanya sehingga membuat banyak siswa untuk melakukan segala cara demi mendapatkan nilai yang bagus di setiap mata pelajarannya. Hal inilah yang kemudian memicu banyaknya kasus kekerasan di dalam dunia pendidikan, karena siswa hanya dituntut untuk mendapatkan nilai yang sempurna tanpa diajarkan bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua, serta bagaimana cara menghormati guru dan teman sebayanya. Padahal seperti yang kita tahu bahwa mereka adalah calon-calon penerus bangsa ini.

Penulis: Opy Trisnawati (Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FKIP Untirta angkatan 2019)
Editor: Rara/BU

Tag: #pendidikanberitaBerita Mahasiswagurukekerasankekerasan pendidikanmahasiswaopiniopini mahasiswaSDsekolahSmaSMP
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Antisipasi Virus Corona, Untirta Kuliah Daring Sampai Akhir Semester

Pos Selanjutnya

Keajaiban Disney Berlanjut di Onward

BERITA TERKAIT

Paradoks KIP-K, Memperketat Sasaran Memperluas Mempersempit Jurang Pendidikan

Paradoks KIP-K, Memperketat Sasaran Memperluas Mempersempit Jurang Pendidikan

13 Apr. 2026
12
Ketika Nasionalisme Dipertanyakan dalam Polemik LPDP

Ketika Nasionalisme Dipertanyakan dalam Polemik LPDP

13 Apr. 2026
13
Pos Selanjutnya
Keajaiban Disney Berlanjut di Onward

Keajaiban Disney Berlanjut di Onward

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Pandawa Untirta Perkenalkan Tradisi Banten di IKJ Dance Carnival 2015

Pandawa Untirta Perkenalkan Tradisi Banten di IKJ Dance Carnival 2015

3 Mei. 2015
189
Mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan, Lolos Pendanaan Program P2MW

Mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan, Lolos Pendanaan Program P2MW

23 Jul. 2025
54

Berita Populer

Dosen Hukum Tanggapi Kasus Pelecehan Seksual Terduga Mahasiswa FEB

Dosen Hukum Tanggapi Kasus Pelecehan Seksual Terduga Mahasiswa FEB

8 Apr. 2026
143
DPM FEB Untirta Tegaskan Pelaku Pelecehan Bukan Anggota Aktif

DPM FEB Untirta Tegaskan Pelaku Pelecehan Bukan Anggota Aktif

1 Apr. 2026
160
Fleksibilitas Pembelajaran atau Ilusi Efisiensi?

Fleksibilitas Pembelajaran atau Ilusi Efisiensi?

11 Apr. 2026
53
Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

5 Mei. 2024
4.7k
Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

11 Apr. 2022
665
Aksi di Komnas HAM, Mahasiswa Untirta Tuntut Pembebasan Tapol

Aksi di Komnas HAM, Mahasiswa Untirta Tuntut Pembebasan Tapol

9 Apr. 2026
32

Komentar Terkini

  • Informatika pada Tim PVTE FKIP Untirta Raih Top 5 Inovator Nasional
  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Kepolisian
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Pusat Studi Kepolisian
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio