• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Minggu, 7 Desember 2025
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Akademik Opini

Pendidikan dan Suku Baduy

15 Jan. 2017
pada Opini
2
Pendidikan dan Suku Baduy

dua orang wisatawan sedang melintasi kampung baduy luar

2.5k
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Pendidikan menjadi suatu hal biasa dilakukan dan menjadi kewajiban untuk masyarakat kita. Pemerintah sampai membuat peraturan wajib sekolah 12 tahun, bukan tanpa alasan, pemerintah menginginkan masyarakat Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Mengingat Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah berlangsung sejak 2015.

Untuk mendapatkan pendidikan sudah mudah, lalu bagaimana dengan anak-anak di Baduy? Apakah mereka juga mendapatkan pendidikan? Ternyata sampai saat ini suku baduy belum menggunakan sekolah formal untuk pendidikannya. Tapi sejak kecil, anak-anak di suku baduy sudah diajarkan ilmu dasar agama, pemahaman hukum adat, dengan model pengajaran papagahan atau saling mengajari sesama warga. Menurut Ayah Musri salah satu pemuka adat di baduy, ketika saya mengunjungi Desa Cibeo di Baduy Dalam bulan desember 2016 lalu, pendidikan memang penting untuk mencerdaskan anak bangsa, semua orang ingin bersekolah, orang baduy juga ingin merasakan seperti apa sekolah formal itu. Namun menurut beliau, banyak pertimbangan akan dampak yang terjadi jika suku baduy mendapatkan sekolah formal, seperti sekolah formal mengerjakan tugas untuk memenuhi kebutuhuan kepuasan, yang akan mengakibatkan masyarakat baduy akan meninggalkan kebudayaan. Sebab itu suku baduy lebih menutup diri untuk pendidikan formal yang akan membahayakan keberlangsungan budaya baduy yang sudah dilestarikan dari nenek moyang mereka.

Mungkin yang belum pernah datang langsung ke baduy akan berfikir bahwa suku baduy sangat menutup diri, tidak terbuka dengan perkembangan, dan anti teknologi. Jika sudah merasakan langsung datang kesana pasti akan tahu alasan sebenarnya. Mereka sangat menjaga budaya asli, melindungi alam mereka, mematuhi hukum adat yang berlaku, dan gaya hidup mereka teratur juga sehat. Beda sekali dengan kita masyarakat perkotaan yang hidupnya tidak teratur karena tingginya tuntutan hidup.

Berbicara tentang suku baduy mengingatkan akan perjalanan menuju Desa Cibeo Baduy Dalam yang membutuhkan waktu tiga jam perjalanan dengan track yang naik turun bukit. Jika selama perjalanan banyak istirahat karena kelelahan kemungkinan baru bisa sampai tujuan empat sampai lima jam. Jangan berfikir bahwa ada jalanan beraspal disana, jalan yang dilewati semuanya masih tanah, bebatuan, akar-akar pohon mirip ketika naik gunung. Pemandangan disana asri, udaranya masih sejuk, tidak ada kendaraan. Kita pengunjung dilarang merusak tanaman atau membunuh hewan yang kita lihat sepanjang perjalanan karena masyarakat baduy sangat menjaga kelestarian tempat tinggalnya.

Bayangkan jika masyarakat baduy sudah mendapatkan pendidikan formal dan sudah terkontaminasi dengan uang dan kekuasaan. Mungkin alam yang selama ini dijaga sudah berubah menjadi vila-vila mewah, jalanan di aspal, kendaraan berlalu lalang, anak-anak yang asyik bermain gadgetnya masing-masing. Tidak ada lagi wanita-wanita baduy yang pagi dan sore harinya berladang, atau anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki dibatu-batuan. Banyaknya kecemburuan sosial yang terjadi. Tanpa pendidikan formal, suku baduy sudah mencerminkan dan mengajarkan kita untuk hidup sehat, sederhana dan tidak adanya kesenjangan sosial diantara warganya.

Mereka sangat patuh, melaksanakan hukum adat dengan sebaik mungkin. Walaupun saat ini mereka sudah mengerti uang, tapi tidak serakah seperti kita. Sudah saatnya kita belajar dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal tetapi memiliki ilmu yang tidak bisa kita dapatkan di pendidikan formal.

Penulis: Aya Sridayanti

Tag: #baduy#pendidikan
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Sikap BEM KBM Untirta Terkait Aksi Bela Rakyat

Pos Selanjutnya

Ujian Akhir Semester, Sendratasik Tampilkan Karya

BERITA TERKAIT

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

4 Des. 2025
80
Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

3 Des. 2025
151
Pos Selanjutnya
Ujian Akhir Semester, Sendratasik Tampilkan Karya

Ujian Akhir Semester, Sendratasik Tampilkan Karya

Komentar 2

  1. Virtual Private Servers says:
    9 tahun yang lalu

    Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.

    Balas
  2. Virtual Private Servers says:
    9 tahun yang lalu

    Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Usai Relokasi, Dekan FKIP Untirta Resmikan PKM FKIP yang Baru

Usai Relokasi, Dekan FKIP Untirta Resmikan PKM FKIP yang Baru

1 Mar. 2024
237
Milad LPM Orange, Tumbuhkan Bakat dan Kreativitas

Milad LPM Orange, Tumbuhkan Bakat dan Kreativitas

4 Nov. 2015
84

Berita Populer

Untirta Tambah Area Parkir Baru, Tuai Respon Positif Mahasiswa

Untirta Tambah Area Parkir Baru, Tuai Respon Positif Mahasiswa

18 Jul. 2025
698
Dinamika Regenerasi dalam Organisasi Kampus

Dinamika Regenerasi dalam Organisasi Kampus

3 Des. 2025
162
Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

Ketika Politik Eksternal Terlalu Dalam Menguasai Kampus

3 Des. 2025
151
Satu Paslon Gugur, KPUM Untirta Tetapkan Aklamasi

Satu Paslon Gugur, KPUM Untirta Tetapkan Aklamasi

6 Des. 2025
105
Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

Netralitas Pemira dan Ancaman Dominasi Organisasi Eksternal

4 Des. 2025
80
Ketua BEM FH Untirta Undur Diri Jelang Pemira

Ketua BEM FH Untirta Undur Diri Jelang Pemira

6 Des. 2025
65

Komentar Terkini

  • Informatika pada Tim PVTE FKIP Untirta Raih Top 5 Inovator Nasional
  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio