• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Sabtu, 16 Mei 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Akademik Opini

Peran Pendidikan dalam Menghindari Pergaulan Bebas

19 Apr. 2020
pada Opini
0
Peran Pendidikan dalam Menghindari Pergaulan Bebas

Ilustrasi penolakan terhadap pergaulan bebas. (Foto: sumberpengertian.id)

2.7k
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Generasi muda seharusnya menjadi generasi harapan bangsa. Akan tetapi faktanya, generasi muda di Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan perilakunya bagi kelanjutan masa depan bangsa ini. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang cerdas, berkarakter, serta memiliki ambisi yang kuat dalam memajukan bangsa dan mempertahankan kedaulatan negaranya.

Generasi muda merupakan generasi yang mudah terpengaruh akan sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya. Dimana, generasi muda seharusnya mulai belajar memikul tanggung jawab dan mampu berpikir serta bertindak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Namun, generasi muda saat ini kurang sadar akan dirinya sendiri, hal ini dapat dilihat dari kebiasaan generasi muda yang lebih senang untuk berpergian dengan cuma-cuma daripada berpergian untuk tujuan yang jelas, seperti lebih senang pergi ke mal untuk berbelanja daripada pergi untuk belajar, lebih senang pergi ke tempat bioskop daripada ke museum-museum sejarah. Dari perilaku tersebut, membuat generasi muda lebih senang berperilaku bebas yang semakin tidak terkontrol tingkah lakunya, tidak terarah, dan sulit untuk dikendalikan. Terkadang dari tempat bioskop tersebutlah generasi muda menonton film-film yang tidak selayaknya ditonton, sehingga menyebabkan generasi muda melakukan pergaulan bebas atau bahkan termotivasi untuk terjun pada dunia seks bebas. Selain itu juga, rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia membuat generasi muda kurang akan ilmu pengetahuan tentang bahayanya melakukan pergaulan bebas.

Jika dilihat dari tinjauan sosiologis, pergaulan bebas ini disebabkan oleh tidak berjalan baiknya peranan dan hubungan antara keluarga, sosial, maupun lembaga pendidikan terhadap seorang individu. Sehingga hal ini membuat seorang individu melakukan pergaulan bebas seperti meminum minuman keras, berjudi, mengonsumsi atau mengedarkan narkoba, tawuran, kebut-kebutan di jalan, atau bahkan melakukan hubungan seks bebas. Menurut saya, hal ini terjadi karena ada beberapa faktor pendorong yang menyebabkan pergaulan bebas. Di antaranya yakni rasa ingin tahu yang tinggi, rasa ingin mencoba dan merasakan, banyak mengalami tekanan dalam hidup, kurangnya pemupukan rasa cinta tanah air, kurangnya ilmu agama sebagai pedoman hidupnya, kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang tua, kurangnya ilmu pengetahuan, serta tidak adanya media penyaluran bakat dan hobinya. Faktor-faktor itulah yang membuat generasi muda melakukan pergaulan bebas.

Gunarsa mengatakan, “Pergaulan bebas berarti pergaulan yang luas antara pemuda dan pemudi. Tidak terlalu menekankan pengelompokan yang kompak antara dua orang saja, akan tetapi antara banyak muda-mudi.” Saya pribadi memandang, pergaulan bebas ini merupakan bentuk pemberontakan seorang individu yang memiliki suatu permasalahan dalam hidupnya agar dapat menarik perhatian banyak orang. Namun hal ini merupakan cara yang salah dan tidak pantas untuk dilakukan. Oleh karena itu, untuk menunjang perkembangan yang optimal pada generasi muda dalam menghindari pergaulan bebas yaitu dengan mendapatkan keberhasilan dalam proses pendidikan dan pengasuhan yang didapatkan, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal.

Proses pendidikan merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan dan memfasilitasi berbagai potensi yang dimiliki manusia. Sedangkan pengasuhan merupakan aktivitas yang dilakukan oleh orang tua, pendidik, dan lingkungan terdekat. Pendidikan dan pengasuhan harus diberikan sesuai dengan usia yang dimiliki dan harus sesuai dengan kebutuhannya. Lingkungan yang memberikan pendidikan dan pengasuhan harus memahami betul bagaimana strategi dan metode pembelajaran dan pendekatan yang tepat. Dalam dunia pendidikan, hal yang perlu dikaji secara mendalam adalah pembentukan karakter, karena karakter merupakan karakteristik dari psikologis yang bisa membimbing untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan menghindari dari pergaulan bebas. Hal yang harus diperhatikan dalam pembentukan karakter yaitu pemahaman yang baik tentang diri dan lingkungan sekitar, pengamatan langsung, nilai dan norma yang ditanamkan harus jelas dan dipahami, memberikan kesempatan untuk mempraktikkan, dan peran orang tua dengan pendidik harus memiliki kerja sama yang baik dalam mendidik serta mengasuh. Jika hal ini dapat berjalan dengan baik, maka generasi muda dapat menghindari dari pergaulan bebas dan tujuan kehidupan generasi muda dapat berjalan dengan sukses. Ini dikarenakan pengawasan dan perhatian orang tua terhadap anak akan berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku anak, dan proses pendidikan yang baik akan membantu anak memiliki kepribadian yang berkarakter.

Permasalahan pergaulan bebas pada generasi muda, juga dapat diatasi melalui tinjauan secara teologis-sosiologis, yang mengupayakan agar permasalahan ini dapat diatasi dengan baik. Penyelesaian masalah ini menggunakan keterlibatan orang tua secara intensif dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anaknya. Pendidikan agama memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberi didikan dan disiplin rohani kepada anak-anak, sehingga anak-anak memiliki pegangan yang kuat dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin berkembang. Pendidikan di sekolah yang dapat membentuk karakter siswa tidak cukup melalui kurikulum saja, namun diperlukan perhatian yang besar terhadap pengembangan aspek afektif dan psikomotorik. Pemerintah juga bertanggung jawab dalam memberi solusi untuk menyelesaikan pergaulan bebas dengan membentuk lembaga-lembaga khusus yang menangani masalah tersebut.

Jika peranan dan hubungan antara keluarga, sosial, dan lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal dapat berjalan dengan baik, maka pergaulan bebas ini dapat dihindari dan generasi muda pun dapat menjalani kehidupan dengan baik. Sehingga, apabila hal ini terjadi, maka cita-cita dan harapan bangsa pun dapat terwujud.

Penulis: Pipi Amelia (Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untirta Angkatan 2019)
Editor: Thoby/BU

Tag: #pendidikanberitafree sexmahasiswaopiniopini mahasiswaperan pendidikanpergaulan bebasuntirta
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Tolak SK Subsidi Pulsa, Ini 5 Tuntutan BEM KBM!

Pos Selanjutnya

Penggunaan dan Pemanfaatan Media Blog untuk Meningkatkan Proses Belajar

BERITA TERKAIT

Ketika Prodi Diukur dari Pasar, Pendidikan Menjadi Komoditas

Ketika Prodi Diukur dari Pasar, Pendidikan Menjadi Komoditas

7 Mei. 2026
15
Efisiensi vs Kedangkalan Nalar, Dilema AI di Kalangan Mahasiswa

Efisiensi vs Kedangkalan Nalar, Dilema AI di Kalangan Mahasiswa

22 Apr. 2026
26
Pos Selanjutnya
Penggunaan dan Pemanfaatan Media Blog untuk Meningkatkan Proses Belajar

Penggunaan dan Pemanfaatan Media Blog untuk Meningkatkan Proses Belajar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Gadis Kretek : Sejarah, Cinta Segitiga, dan Rahasia Pembuatan Kretek

Gadis Kretek : Sejarah, Cinta Segitiga, dan Rahasia Pembuatan Kretek

24 Agu. 2023
1.9k
Begini Hasil Konsolidasi Ormawa Untirta dan WR II Soal UKT

Begini Hasil Konsolidasi Ormawa Untirta dan WR II Soal UKT

17 Jun. 2022
165

Berita Populer

Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

Untirta Adakan Tes GeNose Usai Rektor Terkonfirmasi Covid-19

11 Apr. 2022
904
Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

Rendahnya Tingkat Literasi dan Numerasi Indonesia: Alasan dan Solusinya

5 Mei. 2024
5k
Kritik Jalur Resmi Takut Ditandai, Mahasiswa Untirta Pilih Menfess 

Kritik Jalur Resmi Takut Ditandai, Mahasiswa Untirta Pilih Menfess 

13 Mei. 2026
32
Alasan Orang Saling Sayang, Tapi Enggak Pacaran

Alasan Orang Saling Sayang, Tapi Enggak Pacaran

8 Mei. 2021
3.3k
Tragedi Kawin

Tragedi Kawin

20 Mei. 2022
4.9k
Identitas Anonim: Menfess Jadi Ruang Curhat Favorit Mahasiswa Untirta

Identitas Anonim: Menfess Jadi Ruang Curhat Favorit Mahasiswa Untirta

16 Mei. 2026
25

Komentar Terkini

  • Informatika pada Tim PVTE FKIP Untirta Raih Top 5 Inovator Nasional
  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Kepolisian
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Pusat Studi Kepolisian
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio