Bidikutama.com — Terhitung masih 2 tahun lagi menuju 2024, pandemi pun sampai sekarang masih belum terlihat tanda-tanda menghilang. Namun, sudah banyak spanduk bertebaran yang berisi ambisi delegasi partai untuk menduduki kursi presiden.
Berbagai partai sudah mencuri start untuk memperkenalkan calonnya kepada masyarakat tanpa perduli situasi pandemi. Berbagai titik keramaian diletakkan spanduk sang calon dari beberapa partai, dengan maksud agar masyarakat setidaknya mengenal muka dari calon tersebut.
Sayang sekali, anggaran pembuatan spanduk yang semestinya dapat menarik simpati masyarakat dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak, tetapi justru pihak partai lebih memilih jalan membuat spanduk sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya untuk kemudian diletakkan di billboard dan di tempat-tempat lainnya.
Rasa-rasanya kurang arif dan bijaksana jikalau partai memulai start dengan menebar spanduk dari sekarang di tengah masyarakat yang sedang saling bahu-membahu menolong satu sama lain membentuk suatu gerakan kolektif berbasis solidaritas untuk menghadapi pandemi Covid-19 ini.
Namun, pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat partai untuk terus mem-branding calonnya. Selain dengan menebarkan spanduk di berbagai titik keramaian seperti jalan dan tempat wisata, beberapa partai tentu juga tidak ketinggalan untuk memanfaatkan platform digital guna terus memperkenalkan calon sebagai bentuk branding. Kita semua sebagai masyarakat termasuk orang-orang di partai sangat menyadari betapa pentingnya media digital pada zaman sekarang.
Tidak dapat dipungkiri digitalisasi memang sudah merambah hampir ke seluruh aspek kehidupan manusia. Internet pada saat ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan primer yang tak kalah pentingnya dengan membeli makan. Dunia maya seolah lebih mengasyikkan ketimbang dunia nyata karena dopamine dapat diraih dengan sangat mudah hanya dengan sekali klik menggunakan gadget yang kita miliki.
Media digital juga banyak sekali membantu masyarakat dengan berbagai manfaat yang disajikan. Oleh karenanya, tidak heran kalau banyak aktivitas masyarakat yang mulai bergeser dengan hadirnya akses internet yang serba mudah ini.
Manfaat yang ditawarkan internet juga didapatkan oleh partai. Salah satu manfaatnya adalah mendapatkan kemudahan untuk terhubung dengan masyarakat secara luas guna memperkenalkan calonnya. Dengan tujuan meminimalisir anggaran pembuatan spanduk, partai memanfaatkan platform digital untuk branding calon yang diusung.
Perasaan geram berkecamuk di kalangan masyarakat kelas bawah dan menengah. Situasi pandemi belum terkendali, branding masih tetap terus dilakoni. Masyarakat merasa orang-orang di partai lebih fokus untuk menuju 2024 dari pada fokus untuk membantu mengatasi pandemi yang sudah jelas sedang kita hadapi. Ada banyak sekali cara masyarakat merespon tentang branding menuju 2024 tersebut. Mulai tulisan berisi kritik sampai sarkasme yang dibungkus dengan meme.
Di zaman digital seperti sekarang, meme menjadi sesuatu yang begitu digemari oleh mayoritas pengguna internet, karena meme disajikan dalam bentuk dan narasi yang unik juga lucu. Selain bertujuan untuk menghibur, meme juga telah menjadi alternatif sebagai metode kritik masyarakat terhadap apapun. Selain pesan yang terkandung di dalam meme mudah ditangkap oleh tiap kalangan, pembuatan meme pun sangatlah sederhana. Spanduk kampanye dan poster digital yang lalu lalang di internet buatan partai pun tidak luput dari pantauan pembuat meme. Spanduk atau poster tersebut menjadi ‘bahan konten’ untuk membuat meme baik berupa gambar maupun video yang bertujuan untuk mengkritik dan menegur partai atau orang yang fotonya terpampang pada spanduk atau poster tersebut.
Tetapi pembuatan konten meme yang berisi kritik tersebut bisa saja menjadi buah simalakama atau boomerang bagi kita semua. Kita semua menyadari bahwa kampanye di tengah pandemi membuat kita menjadi geram. Kemudian, kita membuat meme sebagai alat kritik terhadap aktivitas kampanye di tengah pandemi. Tidakkah kita menyadari bahwa secara tidak langsung hal tersebut justru menguntungkan pihak partai atau seseorang yang fotonya terpampang di foto spanduk atau poster tersebut? Partai atau seseorang secara individu yang posternya dijadikan meme menganggap pembuatan meme tersebut sebagai branding gratis bagi mereka.
Kita berang dengan partai dan tokoh yang fotonya terpampang pada poster karena melakukan aktivitas kampanye dari jauh-jauh hari, tetapi tanpa disadari kita justru ikut menyebarluaskan poster dengan cara membuat meme terlepas baik atau buruk penyebaran meme tersebut. Tetapi bad publicity is still publicity.
Penulis : Fadhila Hafizh Al-Mahdi/UIN Jakarta
Editor : Owen/BU





![[ADVETORIAL] Pasta Kangen, Menu Krabby Patty yang Bikin Kangen.](https://bidikutama.com/wp-content/uploads/2016/05/IMG_06141.jpg)





