Bidikutama.com — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar konsolidasi menyoroti fenomena kekerasan aparat sekaligus membahas arah gerak organisasi kemahasiswaan di lingkungan mahasiswa pada Jumat (24/2) di depan Gedung Pusat Bahasa Kampus Untirta Pakupatan. Rabu (25/02).
Salah satu perwakilan mahasiswa FISIP, Dwapara Yoga Samudra, mengaku terdorong mengikuti konsolidasi karena keresahan atas kasus represivitas polisi yang terjadi belakangan ini, termasuk sekitar 700 tahanan politik di seluruh Indonesia yang nasibnya belumjelas. la menambahkan, mahasiswa FISIP seharusnya memiliki kesadaran moral lebih dalam menilai situasi sosial dan politik.
“Tentunya kita merasa resah karena masih ada teman-teman yang berada di dalam, lalu polisi kembali berulah pada sipil. Selain itu, konsolidasi ini juga menyoroti arah gerak FISIP ke depan supaya lebih terstruktur,” jelas Dwapara.
Ketua BEM FISIP Untirta, Arya Rasyid, menegaskan konsolidasi digelar selain membahas represivitas polisi tetapi juga memberi pemahaman arah organisasi kepada mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa (UKM).
Arya juga menyinggung kemungkinan langkah konkret berupa aksidi Polda atau Ciceri terkait isu yang dibahas.
“Jika topiknya represivitas polisi, maka harapannya akan ada reformasi Polri. Polisi seharusnya menjalankan fungsinya, bukan merugikan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu, mahasiswa FISIP lainnya, Ahmad Alimun Ali Musa Firdaus, menilai konsolidasi penting untuk menentukan arah gerak organisasi serta menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengekspresikan keresahan sekaligus menyiapkan strategi organisasi yang lebih jelas, sekaligus menyoroti isu nasional yang berdampak langsung pada mahasiswa.
“Gerakan tanpa arah itu tidak baik. Perlu inventarisasi isu supaya jelas arah gerak FISIP ke depan. Hasil konsolidasi ini nantinya akan disebarkanke Ormawa dan mahasiswa secara umum,” nilainya.
Reporter: Moreno/BU, Nabila /BU
Penulis: Latifah/BU
Editor: Intan/BU











