Bidikutama.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) bergabung bersama Aliansi Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Banten (AMPERA) menggelar aksi unjuk rasa “Lawan Rezim Oligarki Anti Kepentingan Rakyat dan Demokrasi”. Aksi ini digelar di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) pada Jumat (5/5) lalu. (6/5)
- Adapun dalam agitasi yang diedarkan AMPERA terdapat 10 tuntutan yang dilayangkan yaitu:
Cabut Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) No. 6 Tahun 2023 dan PP turunannya - Turunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan stabilkan harga kebutuhan pokok
- Batalkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru rasa kolonial dan cabut pasal karet Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)
- Tolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Sitem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS)
- Hentikan eksplorasi lingkungan ruang hidup masyarakat Padarincang
- Usut tuntas pelaku kekerasan dalam tragedi Kanjuruhan
- Wujudkan ruang publik yang aman bagi anak dan perempuan
- Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah demokratis, serta bervisi kerakyatan
- Wujudkan reforma agraria sejati dan kedaulatan pangan nasional, bangun industrialisasi nasional yang berdaulat dan mandiri.
Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta, Algifari Putra menjelaskan BEM KBM Untirta andil dalam aksi kali ini karena banyak mahasiswa yang merasa pendidikan saat ini kurang layak terutama yang ada di perguruan tinggi.
“Hari ini kita tergabung dengan aliansi BEM Banten Bersatu, yang dimana Untirta bersatu dalam aliansi tersebut. Sebelum konsolidasi dimulai, kita sama-sama framing, ternyata ada bentuk keresahan juga terkait penyikapan tanggal 1 tentang Hari Buruh Internasional dan tanggal 2 tentang hari Pendidikan nasional,” jelasnya
Ia mengungkapkan banyak sejarah reformasi yang terjadi, tetapi masih banyak kekacauan dan konflik yang terjadi di Indonesia.
“Hal yang harus kita sama-sama pahami bahwa ada sejarah reformasi yang sudah terjadi tetapi masih banyak kekacauan dan konflik yang terjadi di Indonesia,” ungkap Algi
Koordinator lapangan aksi Untirta, Beilia Ayu menjelaskan aksi ini digelar karena rezim oligarki terus mengeluarkan peraturan antirakyat.
“Mengingat bulan Mei terdapat momentum Mayday dan Hari Pendidikan Nasional (hardiknas), maka momentum ini harus diresmikan kepada perjuangan yang lebih besar. Perjuangan untuk menyikapi bagaimana rezim oligarki yang terus mengeluarkan peraturan antirakyat,” ungkapnya.
“Aksi ini merupakan perlawanan dan perjuangan dalam sektor pemuda pelajar mahasiswa khususnya di Serang, Banten agar lebih konkret terhadap gagasan persatuan. Massa aksi banyak berasal dari kawan-kawan Untirta, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten (UIN SMH Banten), Universitas Bina Bangsa (Uniba), Universitas Sutomo, Universitas Serang Raya (Unsera) dan kampus lainnya yang berada di Banten,” tambahnya.
Salah satu massa aksi, Hendra Gosana menjelaskan aksi ini dilatarbelakangi permasalahan yang terjadi pada buruh dan pendidikan di Indonesia.
“Untuk memperingati bahwa masih banyak permasalahan buruh dan permasalahan pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini, ibaratnya tidak mungkin kita membiarkan keresahan buruh apalagi kita sebagai mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi-aspirasi,” ujarnya
Ia berharap aksi ini digelar tidak hanya memperingati momentum saja, tetapi membuat sebuah perubahan.
Reporter : Salwa, Annisa M, Arif/BU
Penulis : Nadia/BU
Editor : Adi/BU











