Bidikutama.com — Pelaksanaan Mata Kuliah Umum (MKU) yang terintegrasi lintas fakultas di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menuai sejumlah keluhan mahasiswa. Pasalnya Mekanisme kontrak kuliah yang dinilai belum terstruktur membuat sebagian mahasiswa kebingungan mencari informasi kelas, grup perkuliahan, hingga teknis absensi. Minggu (22/2).
Kepala Pusat MKU, Nanah Sujannah, menjelaskan semester ini terdapat sekitar 1.300 kelas MKU yang dikelola secara terpusat, dengan total sekitar 35 ribu mahasiswa baik pembelajaran dilakukan secara luring maupun daring. Integrasi ini merupakan hasil evaluasi tahun-tahun sebelumnya yang terdapat ketidaksamaan pengelolaan serta belum meratanya pengembangan karakter mahasiswa di tiap fakultas.
“Konfliknya bukan pada niat kebijakan, tapi ini memang hal baru. Kita ingin mahasiswa lintas fakultas berkolaborasi, tidak hanya bertemu dengan jurusannya sendiri. Dunia kerja tidak. diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja,” jelasnya.
Azi Aryadi Najar, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, mengaku mengalami kendala teknis, terutama pada kelas daring seperti kesulitan mengetahui informasi kelas sejak awal pengisian Kartu Rencana Studi (KRS).
“Informasi di Siakang hanya nama dosen dan jadwal saja. Tidak tersedia bagaimana cara memperoleh informasi kelas. Bahkan di awal peserta mata kuliah tidak terlihat siapa saja,” ucapnya.
la juga mengaku, kesulitan pembagian tugas kelompok sebab perbedaan jadwal antar fakultas. Meski konsep integrasi lintas fakultas dinilai baik, tetap perlunya pelaksanaan yang lebih terstruktur dan sistematis yang jelas agar mahasiswa tidak kebingungan.
“Konsepnya bagus karena integrasi antar fakultas, tapi ke depan harus lebih terstruktur dan sistematis. Informasi harus jelas supaya mahasiswa tidak kelimpungan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Muhammad Ghifari Hakiki, Pendidikan Bahasa Indonesia, mengaku kesulitan mencari grup kelas karena mahasiswa berasal dari berbagai angkatan juga jurusan. Selain itu, jumlah peserta yang banyak dalam pertemuan Zoom menyebabkan dosen mengalami kesulitan dalam melakukan absensi.
“Dengan berbeda jurusan dan angkatan mencari grupnya agak susah, linknya kadang tenggelam di grup. Terlebih lagi, banyaknya orang di Zoom dosen agak susah absensi jadi pj harus melaporkan siapa saja yang hadir,” ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Nanah mengakui terdapat kekurangan, khususnya pada mekanisme kelas daring, seraya menjelaskan bahwa akses perkuliahan sebenarnya telah disediakan melalui platform SPADA mengenai tautan Zoom dan materi perkuliahan.
“Untuk yang daring. link Zoom dan materi ada di SPADA. Mungkin informasi ini belum merata tersampaikan. Ini PR kita,” tuturnya.
Nanah menegaskan bahwa minggu pertama perkuliahan digunakan untuk evaluasi yang dilakukan dalam tiga tahap: awal, pertengahan, dan akhir semester. Pihaknya terus mencari pola terbaik dengan melibatkan kerja sama semua pihak.
Kebijakan MKU terintegrasi mendukung program Kampus Berdampak, persiapan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), juga upaya peningkatan Indikator Kinerja Utama (IKU), serta optimalisasi sumber daya dan integrasi antar disiplin.
Reporter: Ariani/BU, Ahmad/BU, Sheril /BU
Penulis: Zafira/BU
Editor: Aqila/BU











