Bidikutama.com – Dinamika organisasi kampus terasa semakin nyata dari tahun ke tahun, di mana proses regenerasi yang ideal kerap terhambat oleh pola interaksi antara pengurus aktif dengan senior atau alumni. Kehadiran mereka sejatinya merupakan sumber pengalaman berharga namun, terkadang sering kali justru menciptakan batasan yang menyulitkan pengurus baru untuk bergerak secara leluasa. Rabu (3/12)
Tanpa disadari, sebagian senior masih membawa cara pandang lama yang dianggap berhasil pada masanya. Padahal, konteks organisasi terus berubah mengikuti kebutuhan dan karakter mahasiswa saat ini dan ketidaksesuaian perspektif ini sering menimbulkan gesekan, terutama ketika inovasi baru dipertanyakan karena dianggap menyimpang dari kebiasaan sebelumnya.
Situasi ini menciptakan dilema bagi pengurus muda, yang ingin mengembangkan organisasi dengan ide-ide segar sesuai perkembangan zaman, namun juga merasa harus menghormati pendapat dan ekspektasi senior yang pernah membesarkan organisasi. Akibatnya, keputusan organisasi sering kali tidak berjalan dengan sepenuhnya berdasarkan kebutuhan internal, melainkan dipengaruhi pandangan dari luar struktur formal.
Bagi sebagian senior, keterlibatan berkelanjutan lahir dari rasa memiliki dan kepedulian terhadap keberlangsungan organisasi namun, tanpa ruang yang cukup bagi generasi baru, kreativitas dan keberanian mengambil keputusan dapat terhambat. Padahal, proses belajar dalam organisasi justru terletak pada kemampuan untuk mencoba, memimpin, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya adaptasi dalam pola komunikasi antara senior dan pengurus aktif, karena perubahan zaman membawa kebutuhan organisasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana apa yang efektif di masa lalu belum tentu relevan hari ini. Oleh karena itu, diperlukan dialog terbuka untuk menyelaraskan semangat pengabdian senior dengan visi pengurus muda.
Pengurus yang merasa dihargai dan diberi ruang akan lebih berani berinovasi dan menjalankan program yang lebih responsif terhadap kebutuhan anggota. Sebaliknya, jika mereka bergerak dengan rasa takut akan mengoreksi kebiasaan lama, organisasi akan sulit berkembang. Lingkungan yang mendukung harus menjadi prioritas agar regenerasi tidak hanya menjadi formalitas setiap tahun, tetapi sebuah proses aktual yang akan membuka jalan bagi kemajuan sebuah organisasi.
Penulis : Asadulloh/ Mahasiswa Fakultas Hukum Untirta
Editor: Nisa/BU










