Bidikutama.com — Sebuah video yang sempat viral memperlihatkan seorang Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang berpenampilan seperti Mahasiswi pada saat prosesi wisuda beberapa waktu lalu. Mahasiswa tersebut membentangkan tulisan “Stop Policing Our Gender Expression” sebagai bentuk ekspresi diri. Rabu (5/11).
Nuril Kusuma, Alumni mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi yang mengenakan kebaya dalam video viral tersebut, menyadari bahwa tindakannya akan mengundang beragam reaksi, baik pro maupun kontra. Namun menurutnya, hal itu merupakan cara untuk menyuarakan keresahan tentang perbedaan antara ekspresi gender dan orientasi seksual.
“Saya menyadari bahwa video ini akan mengundang banyak reaksi. Namun, saya merasa ini adalah cara menyuarakan keresahan saya mengenai perbedaan antara gender expression dan orientasi seksual,” ujar Nuril.
Ia mengaku diboikot oleh beberapa pihak kampus karena cara berpakaian yang dianggap tidak sesuai dengan gender serta dinilai menormalisasi hal-hal yang bertentangan dengan norma pendidikan. Meskipun tujuannya untuk meningkatkan pemahaman mengenai isu tersebut, dampak yang muncul ternyata melebihi apa yang ia bayangkan.
“Setelah video saya viral, saya sempat diboikot oleh beberapa pihak di kampus. Saya dianggap menormalisasi hal-hal yang tidak sesuai dengan norma kampus,” ungkap Nuril.
Selama masa pemboikotan, Nuril merasa tidak diberi kesempatan untuk memberikan klarifikasi secara langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Menurutnya, keputusan itu bersifat sepihak dan berasal dari pihak yang tidak memahami konteks sebenarnya.
“Saya merasa sedih karena tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan diri. Pihak yang terlibat dalam keputusan tersebut tidak pernah meminta keterangan langsung dari saya, dan semua keputusan datang dari pihak yang tidak memahami konteks sebenarnya,” jelas Nuril.
Walaupun mendapat banyak tekanan dan kritik yang kurang baik dari berbagai pihak, Nuril tetap berpegang pada prinsipnya untuk menunjukkan dirinya secara utuh, karena ia merasa tindakannya tidak merugikan siapapun. Terakhir, Nuril berharap kampus dapat menjadi tempat yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan, serta mampu melindungi semua kelompok, bukan hanya mayoritas, karena menurutnya tidak ada yang salah jika seseorang berbeda dalam cara berekspresi.
“Saya berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak berpura-pura dan menunjukkan diri saya yang seutuhnya. Jika saya merasa tidak merugikan siapapun, mengapa saya harus berhenti? Kampus harus menjadi tempat yang melindungi semua kelompok, bukan hanya yang mayoritas, kita harus mengedepankan pemahaman, bukan diskriminasi,” tutup Nuril.
Tindakan Nuril memicu berbagai tanggapan, termasuk dari kalangan dosen yang menilai perilaku tersebut tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan. Salah satu dosen dari prodi Ilmu Komunikasi, Ivan Issa Fathony, menegaskan bahwa perilaku mahasiswa yang menampilkan ekspresi menyimpang di media sosial dapat mempengaruhi dunia pendidikan, ia menyebut tindakan itu tidak sejalan dengan ajaran moral dan agama.
“Hal seperti ini jelas mempengaruhi dunia pendidikan, kita tidak diajarkan untuk menyimpang dalam pendidikan dan agama,” tegas Ivan.
Selain menyoroti konten yang viral, ia juga mengkritisi tren popularitas di media sosial yang dianggap dapat memicu masyarakat untuk menormalisasi perilaku yang salah. Ia juga menekankan pentingnya empati, nilai spiritual, dan tanggung jawab moral bagi mahasiswa agar dilema etika dapat dihindari dan menghimbau warganet untuk lebih bijak dalam menanggapi konten yang beredar di media sosial.
“Orang-orang seperti ini ujung-ujungnya hanya mencari popularitas dan menormalisasi perilaku yang salah. Netizen yang budiman jangan memberi like, komentar, atau follow pada postingan yang tidak bernilai pendidikan, dengan begitu, mereka tidak akan mendapat panggung untuk terus menyebarkan perilaku negatif,” ujar Ivan.
Di sisi lain, meskipun video viral tersebut menimbulkan kontroversi, Salah satu mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan, bahwa meskipun Nuril dikenal tampil beda dan ekspresif ia tetap menunjukkan fokus terhadap tugas-tugas perkuliahan. Selain itu, Nuril juga aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas, serta kerap membantu teman-teman maupun mahasiswa baru dengan membagikan informasi dan tips perkuliahan.
“Meskipun tampil beda dan ekspresif, Kak Nuril tetap fokus pada tugas kuliah. Dia juga aktif di berbagai komunitas, ramah, dan sering membantu maba dengan informasi mengenai tips kuliah,” ungkapnya.
Reporter : Nabil, Elsa,Ahmad, Widati, Cahaya/MBU
Chanila, Rifqi/BU
Penulis : Aulia/MBU
Editor : Nisa/BU










