Bidikutama.com — Penggunaan suar dalam ruangan tertutup menjadi sorotan selama acara Pemilihan Umum Raya (Pemira) yang berlangsung pada (23/12), terutama saat proses perhitungan suara. Kejadian ini memicu beragam tanggapan dari pihak kampus, mahasiswa, dan petugas keamanan yang hadir. Selasa (24/12)
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Agus Sjafari, menilai bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya, terutama karena dilakukan di dalam ruangan tertutup.
“Ini sebenarnya merupakan tindakan yang kurang bagus ya, karena ini kan kondisinya di ruangan, berbahaya. Saya menghimbau agar semuanya tertib dan tidak ada yang bakar-bakar,” tegasnya.
Sementara itu, Japar dari tim keamanan menyebut bahwa suar sempat dihentikan, tetapi sudah terlanjur dinyalakan oleh mahasiswa. Ia menambahkan bahwa asap dari suar yang masuk ke dalam ruangan memperburuk situasi, terutama karena sirkulasi udara terhubung dengan sistem AC.
“Iya, sempat diberhentikan, cuma kan udah dinyalain. Terpaksa udah nyala, mau gimana lagi. Cuma udah saya usir semua mahasiswa yang tadi menyalakan api itu,” jelasnya.
Gymnastiar, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), menyoroti dampak negatif penggunaan suar, terutama terhadap kesehatan.
“Ini merugikan orang, kasihan yang punya penyakit sesak nafas atau lain sebagainya. Mudah-mudahan ke depannya tidak perlu pakai beginian lagi,” ungkap Gymnastiar.
Nur Yoga Alfin Setiawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengakui bahwa meskipun penggunaan suar mencerminkan euforia, langkah tersebut sangat tidak tepat. Ia berharap agar acara serupa di masa mendatang dilakukan di lokasi terbuka untuk meminimalisir risiko.
“Euforia itu bagus, tapi ini membahayakan. Mahasiswa sudah menumpuk, jadi engap. Ditambah lagi asap dari suar yang membuat ruangan semakin sesak,” ujarnya.
Reporter : Nadira, Arif, Esther/BU
Penulis : Hana/BU
Editor : Anggi/BU











