Bidikutama.com — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menginisiasi aksi beserta ratusan mahasiswa lainnya mendesak evaluasi proyek pemerataan pendidikan dan infrastruktur di Banten hingga menyinggung kasus kekerasan aparat yang menyebabkan meninggalnya remaja usia 14 tahun di Provinsi Maluku Utara tepatnya di Kota Tual. Aksi ini diunjuk berlokasi di gedung Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) pada kamis (26/2). Jumat (27/2)
Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Untirta, Muhammad Ridam, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan manifestasi berupa dorongan agar pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap proyek-proyek yang diselenggarakan dengan mempertimbangkan kelayakan dampak pada masyarakat, khususnya di wilayah Sawah Luhur dan Lebak. Serta menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan di Provinsi Banten.
“Kami ingin mendorong evaluasi proyek-proyek yang ada agar ke depan Masyarakat banten tidak terus terdampak kebijakan yang merugikan, semua harus diusut,” ujarnya.
Ridam menuturkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah utara terutama Tangerang Selatan, dinilai lebih mendominasi pertumbuhan ekonomi dibandingkan wilayah selatan Provinsi Banten.
“Ketimpangan ini terlihat jelas. Wilayah selatan masih tertinggal dari infrastruktur jalan, kesehatan hingga fasilitas pendidikan,” tutur Ridam.
Salah satu peserta aksi, Dzikri Ahmad Mudzaki, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), menilai akses pendidikan dan lintasan jalan di berbagai daerah masih memprihatinkan, terutama di Kabupaten Pandeglang.
“Masih banyak jalan yang rusak. Saat hujan, siswa kesulitan menunggang fasilitas umum karena tidak memadai. Terlebih lagi, gaji seorang guru honorer digaji dengan kisaran yang kecil,” ucap Dzikri
Peserta aksi lainnya, Khaira, mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, mengungkapkan harapan pemerintah mendengar aspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk segera melakukan pembenahan secara menyeluruh.
“Kami ingin pemerintah berbenah, baik dari sistem pemerintah maupun penegakan hukum. Jangan sampai kepercayaan Masyarakat hilang,” harapnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyinggung penegakan hukum ditingkat nasional, termasuk kasus dugaan kekerasan aparat yang menyebabkan meninggalnya seorang anak berusia 14 tahun di Provinsi Maluku Utara. Mahasiswa Untirta menyatakan akan terus mengawal isi evaluasi proyek dan pemerataan infrastruktur di Banten. Mereka membuka kemungkinan aksi lanjutan apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respon konkret dari pemerintah.
Reporter: Anisa Sekar /BU, Rafi /BU, Abyan /BU
Penulis: Nefaroh /BU
Editor: Aqila/BU










