Berita Mahasiswa

Ketua APSSI: Konflik Wamena Harus Ditangani Secara Sosial Budaya

Pinterest LinkedIn Tumblr

Bidikutama.com – Ketua Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI), Ida Ruwaida meminta pemerintah menyelesaikan konflik di Papua tidak hanya dengan pendekatan keamanan. Ida berharap konflik di Wamena-Papua dapat diselesaikan hingga ke akar permasalahan melalui pendekatan sosial budaya. (2/10)

“Pendekatannya bukan hanya pendekatan legal approach, bukan hanya pendekatan keamanan, melainkan pendekatan sosial budaya yang memang menurut saya menjadi PR besarnya,” katanya dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Rabu (2/10).

Ida Ruwaida (tengah) saat tengah menyampaikan materinya di hadapan peserta seminar nasional. (Foto: Faisal Dudayef/BU)

Menurutnya, pendekatan melalui sosial budaya memanglah butuh waktu. Namun, tanpa adanya pendekatan justru tidak akan menjadikan masyarakat memiliki sifat toleran yang mampu hidup berdampingan.

“Karena kalau bicara pendekatan sosial budaya, maka berbicara memang di dalam ‘pencegahan’, yakni bagaimana caranya melakukan rehabilitasi. Memang butuh waktu, tapi tanpa adanya pendekatan sosial budaya, ya kita nanti tidak akan melahirkan masyarakat yang sifatnya lebih toleran, yakni bisa hidup berdampingan di tengah perbedaan yang ada,” sambung Sosiolog Universitas Indonesia (UI) itu.

Lanjut Ida, masyarakat Indonesia mempuyai hak untuk tinggal di mana saja, termasuk di Papua. Namun yang terpenting ialah cara pandang masyarakat lokal atau pun masyarakat pendatang pada masyarakat lokal.

“Satu hal yang sebetulnya menjadi ciri khas masyarakat Indonesia ialah bahwa masyarakat Indonesia sebetulnya punya hak untuk tinggal di mana saja. Tapi memang yang menjadi penting dan digaris bawahi adalah bagaimana sebetulnya penerimaan masyarakat lokal terhadap masyarakat pendatang, termasuk juga bagaimana cara pandang masyarakat pendatang terhadap masyarakat lokal,” lanjutnya.

Tutup Ida, ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama bagaimana menjaga harmonisasi dari kedua kelompok tersebut, karena menurutnya kejadian ini bukan hanya terjadi di Wamena saja.

“Kita sebetulnya masih punya PR yang terkait dengan bagaimana harmonisasi dari dua kelompok itu, karena itu tidak hanya terjadi di Wamena, Aceh dan Lampung juga pernah, ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia sendiri,” tutupnya.

Reporter: Faisal Dudayef/BU
Penulis: Faisal Dudayef/BU
Editor: Thoby/BU

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.