Bidikutama.com – Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (Pemira) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang dilaksanakan pada Jumat (12/12) resmi menetapkan Muhammad Ridam Nur Aryadi dan Muhammad Oriza Sativa sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) pada periode 2026-2027. Penetapan tersebut dilakukan setelah rangkaian tahapan yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Universitas. Minggu (14/12)
Muhammad Ridam Nur Aryadi, Presiden Mahasiswa (Presma) Terpilih, menegaskan bahwasannya komitmen mereka untuk tetap menjaga antara tanggung jawab akademik dan amanah untuk organisasi. Ia juga menjelaskan bahwa manajemen waktu adalah kunci utama agar peran menjadi Presiden Mahasiswa tidak menghambat proses akademik, khususnya pada saat menyusun skripsi.
“Kami menyadari bahwa kewajiban utama kami tetap menjadi mahasiswa. Oleh karena itu, kami harus bisa membagi waktu antara menyelesaikan skripsi dan menjalankan program-program BEM Untirta selama satu periode ke depan,” tegas Ridam.
Adapun terkait perbedaan latar belakang fakultas mereka yakni Ridam berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Oriza dari Fakultas Hukum (FH), keduanya menilai hal tersebut bukan menjadi hambatan, melainkan kekuatan dalam kepemimpinan. Ridam menekankan bahwa identitas sebagai mahasiswa Untirta menjadi titik temu dalam menyatukan visi dan arah gerak kepemimpinan.
“Walaupun kami berasal dari prodi dan fakultas yang berbeda, hari ini kami berada dalam satu label yang sama, yaitu mahasiswa Untirta,” ucap Ridam.
Sependapat dengan Ridam, Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) terpilih, Muhammad Oriza Sativa, menuturkan bahwa fokus akademik tetap menjadi prioritas meskipun aktif dalam organisasi. Menurutnya, organisasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab perkuliahan.
“Organisasi adalah kegiatan tambahan, sementara akademik tetap menjadi tanggung jawab utama. Upaya menyusun skripsi tetap harus berjalan, dan setidaknya dilakukan secara bertahap,” tutur Oriza.
Dalam pemaparan visi dan misi, pasangan Ridam-Oriza dapat mengusulkan visi kepemimpinan yang progresif dan berdampak. Advokasi mahasiswa menjadi misi prioritas yang akan mereka jalankan, mengingat masih banyak persoalan akademik dan kesejahteraan mahasiswa yang perlu mendapatkan perhatian serius, termasuk isu Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Advokasi menjadi fokus utama kami, karena saat ini mahasiswa Untirta menghadapi berbagai persoalan yang cukup kompleks, baik secara akademik maupun kesejahteraan,” terang Oriza.
Di sisi lain, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Untirta, Agus Sjafari, turut memberikan tanggapan dan harapannya terhadap kepemimpinan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih. Ia menyampaikan apresiasi dan berharap BEM Universitas dapat menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi mahasiswa.
“Program yang dijalankan harus mampu meningkatkan prestasi mahasiswa, membangkitkan partisipasi mahasiswa Untirta, serta menghadirkan kegiatan yang menarik, edukatif, dan menghibur,” ujar Agus.
Terkait dukungan kampus, pihak universitas menyatakan siap memberikan bantuan berupa anggaran serta pembinaan organisasi guna memperkuat peran BEM Universitas sebagai mitra yang dapat diandalkan kampus. Ia juga menyoroti beberapa catatan evaluasi dalam pelaksanaan Pemira tahun ini, terutama rendahnya partisipasi mahasiswa serta masih maraknya calon tunggal. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian agar Pemira ke depan dapat berlangsung lebih kompetitif dan partisipatif.
“Animo mahasiswa tidak sampai 50%, hanya sebanyak 25-30% serta banyak calon tunggal. Ke depan, ini harus diperbaiki agar tercipta kompetisi yang sehat dan demokratis,” tutupnya.
Reporter : Amelia R, Dini, Zafira/BU
Penulis : Nissa S/BU
Editor : Rizqy/BU











