Bidikutama.com – Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional, pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVIII 2025 yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tim Untirta berhasil meraih Juara Harapan 1 cabang Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ), pencapaian ini menjadi bukti nyata semangat mahasiswa Untirta dalam mengembangkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui kompetisi dakwah yang berwawasan intelektual. Kamis (16/10)
Tim MSQ Untirta beranggotakan Syafira Naulia dari Program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi 2022, Laila Zahra dari Pendidikan Matematika 2024, serta Amelia dari Pendidikan Bahasa Indonesia. Ketiganya terpilih mewakili kampus setelah melewati proses seleksi internal yang cukup ketat, hingga akhirnya berkesempatan tampil di panggung nasional bersama ratusan peserta dari berbagai universitas di Indonesia.
Bagi Syafira, keterlibatannya dalam ajang MTQMN bukan sekadar perlombaan, tetapi wujud kecintaan terhadap Al-Qur’an yang telah tumbuh sejak masa madrasah dan telah mengikuti berbagai pelatihan di bidang MSQ, sehingga ia merasa mampu untuk bersaing di tingkat nasional.
“Ketika ada MTQMN ini, saya merasa mampu untuk maju dan membawa nama Untirta. Bagi saya, yang penting bukan hasilnya, tapi bagaimana bisa membawa nama kampus di ajang nasional,” ucap Syafira.
Dukungan dari pihak kampus juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan tim. Syafira menyebut bahwa semangat dari civitas akademika turut menjadi motivasi, meski di sisi lain menghadirkan tekanan tersendiri.
“Dari kampus ada dukungan semangat dari dosen dan pihak universitas, tapi harapannya juga besar. Jadi terkadang terasa sebagai tekanan, tapi tetap memotivasi kami,” tambahnya.
Sedangkan Laila, mengungkapkan proses menuju kompetisi nasional tersebut tidaklah mudah. Dari sekitar 200 kampus yang berpartisipasi, hanya 48 tim yang lolos ke babak penyisihan, dan enam di antaranya melaju ke final. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan kegiatan organisasi, tim mereka harus berjuang menyesuaikan waktu latihan agar tetap solid dan siap tampil di hadapan dewan juri.
“Tantangannya menyatukan chemistry karena kami beda angkatan dan jurusan. Tapi akhirnya bisa saling mengerti dan tampil maksimal” ungkap Laila.
Laila menambahkan, universitas juga turut memfasilitasi keberangkatan dan kebutuhan tim selama lomba berlangsung, mulai dari akomodasi, transportasi hingga kebutuhan pada saat perlombaan berlangsung.
“Kampus memfasilitasi kami dengan baik, mulai dari akomodasi, transportasi, sampai kebutuhan saat lomba. Sebelum berangkat juga ada pelepasan bareng rektor dan jajarannya,” jelasnya.
Sementara itu, Amelia, menuturkan bahwa tantangan terbesar datang dari keterbatasan waktu latihan dan jarak tempat tinggal antar anggota tim. Meski begitu, mereka tetap berusaha menjaga kekompakan.
“Tantangan sih banyak ya dari segi latihan, karena masing-masing dari kita jarak rumahnya cukup jauh, dan dari segi lawan juga ternyata bukan sembarangan, lawan kita juga sudah pemain nasional,” tutur Amelia.
Terakhir, Amel menambahkan peraihan juara ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Untirta, sekaligus menegaskan peran mahasiswa sebagai duta kampus dalam bidang keagamaan dan dakwah Qur’ani. Ketiganya berharap, prestasi ini dapat membuka jalan bagi mahasiswa lain untuk lebih berani tampil dan mengembangkan potensi di bidang keislaman.
“Siapapun yang mencintai Al-Qur’an, tolong menjadi penerus untuk tetap memajukan nama Untirta di setiap perlombaan yang berbau MTQ,” tutup Amel.
Reporter: Dinar/BU, Tedi/BU
Penulis: A. Dinara/BU
Editor: Rizqy/BU











