Bidikutama.com – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei kali ini disambut oleh polemik penutupan Program Studi (Prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri akan berencana ditutup. Rencana ini dicetus oleh Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti). dengan landasan pembentukan tidak hanya relevan dengan dunia kerja, tetapi juga membentuk insan mahasiswa mampu mengasah kepiawaian kompleksitas hidup. Isu perkembangan industri yang pesat sementara perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan menyesuaikan kurikulum tanpa mengabaikan nilai akademik pun ikut mencuat. Rabu (6/5).
Salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untirta, Neka Fitriyah, menjelaskan bahwa relasi antara universitas dan industri sudah cukup lama menjadi perhatian.
“Universitas bertugas melahirkan ide, gagasan, dan inovasi yang dibutuhkan industri, sementara industri menjadi ruang penerapan sekaligus lapangan kerja bagi lulusan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian kurikulum merupakan langkah yang terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja.
“Namun, universitas juga harus dapat menjaga marwahnya sebagai ruang pengembangan pengetahuan dan gagasan,” katanya.
Di sisi lain, mahasiswa merasakan langsung adanya kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta, Natasya, mengungkapkan bahwa materi perkuliahan sering kali lebih berfokus pada konsep dibandingkan keterampilan teknis yang dibutuhkan industri.
“Menurut saya pribadi jika di kampus banyak belajar teori komunikasi, tapi ternyata di dunia kerja lebih dibutuhkan kemampuan praktis seperti produksi konten digital dan pengelolaan media sosial,” jelasnya.
Ia menilai bahwa tanggung jawab menjaga relevansi pendidikan tidak hanya berada pada kampus, tetapi juga melibatkan industri dan pemerintah.
“Oleh karena itu, dibutuhkannya kolaborasi antara ketiga hal tersebut agar kebijakan pendidikan tetap adaptif terhadap perubahan zaman,” tambahnya.
Sementara itu, Yajid, mahasiswa lainnya, memandang pendidikan dari sudut yang lebih luas.
“Pendidikan bukan hanya untuk kerja, tapi untuk memperdalam perspektif kita terhadap dunia,” katanya.
Ia mencontohkan bahwa bidang seperti seni dan filsafat tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pemikiran manusia.
“Jika pendidikan hanya berfokus pada bidang yang dianggap relevan dengan industri, maka akan mengabaikan aspek kemanusiaan yang lebih mendalam,” tutupnya.
Reporter: Sadira Kanza/BU
Penulis: Fera/BU
Editor: Intan/BU











