Bidikutama.com — Pelaksanaan Perhitungan Suara Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tahun 2025 kembali diwarnai dengan aksi sejumlah mahasiswa yang menyalakan suar atau flare. Penggunaan flare tersebut menjadi perhatian karena termasuk barang yang tidak diperkenankan digunakan dalam kegiatan kampus. Senin (15/12)
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Untirta, Agus Sjafari, menegaskan bahwa pihak universitas sejak awal tidak memperkenankan peserta membawa barang-barang yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.
“Sebenernya kita tidak memperkenankan peserta membawa apapun mau itu petasan, apalagi senjata tajam, bom molotov, untuk flare itu sebenernya memicu perhatian dan takutnya ada yang tidak puas, terutama yg bersaing akan melalukan yang lebih lagi,” ujar Agus.
Agus juga menyampaikan bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada pelaksanaan Pemira tahun sebelumnya. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut khusus terkait penggunaan flare. Terkait kemungkinan tindak lanjut ke depan, Agus menegaskan bahwa pihak universitas masih sebatas memberikan imbauan.
“Sementara untuk flare belum, hanya sekedar himbauan, tapi kalau senjata tajam dan bom molotov pasti akan kita tindak lanjuti,” tegasnya.
Sementara itu, tanggapan juga disampaikan oleh perwakilan pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Fakultas Hukum (FH), Ahmad Edy Santoso, yang menyebut bahwa tidak ada pemberitahuan atau himbauan khusus terkait larangan penggunaan flare sebelum kegiatan berlangsung.
“Jujur secara terus terang kami tidak ada himbauan karena sebelumnya saya juga tidak paham mengenai bagaimana budaya-budayanya. Jujur saya tahun kemarin tidak ikut mungkin yang amat disayangkan kepada kawan-kawan masa yang tidak tertib,” ucap Ahmad.
Ia juga menyampaikan bahwa pihak KPUM Universitas tidak memberikan informasi dan himbauan mengenai larangan barang bawaan serta tata tertib. Sehingga hal tersebut berdampak kepada KPUM di tingkat Fakultas yang tidak tahu mengenai hal tersebut.
“Saya rasa kawan-kawan KPUM Univ juga tidak memberikan informasi terkait himbauan larangan yang pada akhirnya khususnya dari KPUM Fakultas Hukum juga kan tidak tahu seperti itu,” tuturnya.
Sementara itu, Supriyanto, selaku keamanan Untirta, menyebutkan pihaknya sudah melakukan pengecekan secara maksimal di area depan gerbang utama. Namun, dikarenakan keterbatasan keamanan dan kondisi malam hari, membuat beberapa orang lolos dalam pemeriksaan.
“Dari kami tim keamanan sudah semaksimal mungkin, untuk di depan pengecekan area ditemukan hal yang sama kaya flare itu disimpan di depan, karena ketahuan membawa flare. Tapi yang lainya karena keterbatasan keamanan juga dan ini malam ya, beliau selipkan dimananya juga gatau,” ungkap Supriyanto.
Ia juga menyebutkan pihaknya akan terus melakukan perbaikan untuk kedepannya, dikarenakan area tersebut merupakan area steril dan terdapat beberapa alarm detektor yang dapat mengganggu hal tersebut.
“Pasti kita akan ada perbaikan kedepan untuk mengantisipasi hal hal yang demikian, tapi kita selaku keamanan yang jelas punya keterbatasan juga,” tutupnya.
Reporter : Amelia R, Zafira, Rhamaditya, Amel/BU
Penulis : Melya/BU
Editor: Rizqy/BU










