Bidikutama.com — Puluhan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “Rebut Ruang Rakyat” di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang. Aksi tersebut dalam rangka menyambut May Day mengangkat isu pendidikan, lingkungan, dan kesejahteraan buruh pada Kamis (23/4). Sabtu (25/4).
Koordinator Lapangan, Muhammad Oriza Sativa, menyebut terdapat 16 tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut. Isu yang diantaranya yakni pendidikan, konflik agraria, hingga penyempitan ruang demokrasi menjadi fokus utama.
“Hari ini pemerintah dinilai belum maksimal dalam memperhatikan sektor pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap nelayan serta konflik agraria di sejumlah wilayah di Banten. Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Oriza menegaskan aksi akan terus berlanjut jika tuntutan tidak mendapat respons. Mahasiswa berencana melakukan konsolidasi lanjutan hingga bulan Mei.
“Kalau tidak ada tanggapan, kami akan terus mengawal sampai bulan Mei, bahkan melakukan konsolidasi lanjutan,” ujarnya.
Presiden Mahasiswa Untirta, Muhammad Ridam Nur Ariyadi, menyebut aksi ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Hari Pendidikan Nasional dan May Day. Ia menegaskan sektor pendidikan menjadi fokus utama tuntutan mahasiswa.
“Isu yang kami sampaikan beragam, mulai dari pendidikan sebagai fokus utama, hingga lingkungan dan upah buruh,” ujarnya.
Ridam menyoroti ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik di Banten, khususnya antara Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Ia menilai perbedaan upah dan tunjangan masih menjadi persoalan informasi terkait anggaran pendidikan belum sepenuhnya terbuka kepada publik.
“Beban kerja ASN dan P3K hampir sama, tetapi upah P3K masih rendah, termasuk adanya pengurangan tunjangan,” katanya.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan Untirta, Muhammad Qashid Alghifari, menyampaikan salah satu tuntutan aksi adalah pembebasan mahasiswa yang ditahan pasca aksi di Perempatan Ciceri. Ia menilai kasus tersebut perlu mendapat perhatian.
“Salah satu tuntutan kami adalah pembebasan kawan-kawan yang ditahan,” ujarnya.
Ghifari juga menyoroti ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah tertinggal. Ia menyebut masih banyak wilayah dengan akses pendidikan yang terbatas.
“Masih banyak daerah yang fasilitas pendidikannya tidak layak,” tegasnya.
Mahasiswa berharap pemerintah Provinsi Banten segera merespons tuntutan tersebut, khususnya terkait kesejahteraan pendidik dan pemerataan pendidikan.
Reporter: Annisa Sekar/BU, Ahmad Tiftazani/BU
Penulis: Ervi/BU
Editor: Rhamaditya/BU











