Bidikutama.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) telah melaksanakan Gelar Karya Program Pengenalan Lapangan Persekolahan Holistik (PLPH) 2025, sebuah gelar karya yang menampilkan hasil Proyek Pembelajaran, Media Inovatif, dan Proyek Kolaboratif yang dibuat mahasiswa setelah tiga bulan praktik mengajar di sekolah-sekolah mitra. Kegiatan ini menjadi ajang bagi mahasiswa dari berbagai program studi (Prodi) untuk menunjukkan inovasi media pembelajaran yang mereka kembangkan bersama peserta didik. Sabtu (29/11)
Salah satu peserta gelar karya, Muhammad Tendi, mahasiswa Prodi PPKn, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian tugas dari program mata kuliah PLPH yang telah mereka kontrak.
“Di semester 7 kami mengontrak mata kuliah PLPH, yang mana kita terjun ke dunia pendidikan. Di situ kita ditugaskan membuat satu proyek yang nanti dipamerkan di FKIP,” ungkap Tendi.
Pada kesempatan tersebut, Tendi bersama kelompoknya menampilkan alat pendeteksi gempa yang dikembangkan bersama siswa kelas XI. Proyek ini dipilih karena dekat dengan kebutuhan siswa dan menjadi media edukasi kebencanaan yang mudah dipahami.
“Kalau untuk proyek saya sendiri, saya ada proyek pendeteksi anti gempa, kebetulan kami ada dari jurusan fisika yang memang waktu itu membuat bersama anak-anak kelas XI,” tambahnya.
Ia juga berharap, proyek tersebut dibuat agar siswa memahami kondisi dan situasi saat terjadi gempa sehingga mereka dapat lebih siap menghadapi bencana. Namun, ia mengakui bahwa proses pembuatannya tidak sepenuhnya mudah karena keterbatasan fasilitas di sekolah sehingga beberapa peralatan harus mereka sediakan sendiri. Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi dirinya dan kelompok.
“Membuat pendeteksi gempa kita membutuhkan alat ya, yang mana sekolah pun tidak memiliki fasilitas yang memang menyediakan tipe-tipe itu. Maka kami yang berinisiatif untuk menyediakan sendiri,” ucap Tendi.
Sementara itu, Syadela, dari Prodi Biologi, Ia menjelaskan bahwa kelompoknya menampilkan berbagai media seperti Terarium, Seminar ketahanan pangan, dan Materi edukasi lainnya dengan tujuan yaitu memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa FKIP sebagai calon guru. Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi di lapangan adalah ketidaksesuaian implementasi di lapangan dan harus menyesuaikan situasi kondisi.
“Kadang modul yang kami buat tidak selalu sesuai dengan implementasi di lapangan karena harus menyesuaikan situasi dan kondisi,” jelas Syadela.
Syadela berharap kepada penyelenggara PLPH agar lebih terstruktur dan dipersiapkan secara matang untuk kedepannya, karena ia merasa masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan sehingga ada beberapa panduan yang kurang dipahami.
“Harapannya, penyelenggaraan PLP ke depan bisa lebih matang dan terstruktur, karena masih ada beberapa panduan yang kurang kami pahami. Semoga sosialisasinya dapat semakin ditingkatkan,” harapnya.
Reporter : Sheril, Hana/BU
Penulis : Himni/BU
Editor : Rizqy/BU










