• Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Jumat, 10 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
SUBSCRIBE
BidikUtama.com
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
BidikUtama.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
  • Inspirasi
  • Jalan-Jalan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
Beranda Cerita Pendek

Aku, Harapan dan Kenyataan

17 Jun. 2023
pada Cerita Pendek
0
Aku, Harapan dan Kenyataan

Ilustrasi : Aya/BU

414
DILIHAT
Bagikan

Bidikutama.com – Halo, namaku Erina, hari ini aku baru banget lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impianku di Kota sebelah. Setelah tiga tahun berjuang untuk lolos, akhirnya aku berada di tahap yang lebih serius, yaitu gimana caranya aku lulus dalam kurun waktu yang nggak lama. Setelah mempersiapkan semua barang yang akan dibawa, aku diantar oleh keluargaku menuju indekos dekat kampus, aku dan keluargaku menangis bersama, sedih bercampur haru karena akhirnya aku bisa mencapai impianku, tapi dengan terpaksa aku juga harus berpisah dengan papah, mamah dan kakak.

Walau aku sering menangis saat sendirian di indekos, aku tetap senang kok menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Aku juga terkadang kangen sama teman-teman sekolahku, tapi di sini juga aku berjumpa dengan teman baru dan suasana yang baru. Bahagia banget deh pokoknya!

Hari itu, aku dan yang lain menjalani masa orientasi. Sebelum hari H, kita dibagi kelompok dan selalu melakukan mentoring setiap minggunya. Satu kelompok sekitar 10 orang, mentorku baik banget, namanya Kak Lily. Kita selalu mentoring di lingkungan sekitar kampus, kata Kak Lily supaya kita kenal lingkungan sekitar. Setelah satu bulan mentoring, sampai deh di hari H. Hari itu kami semua kumpul di lapangan kampus, nggak begitu jauh dari tempat di mana biasa mentoring sama Kak Lily. Kak Lily ada di belakang barisan kelompokku, acara dibuka dengan meriah, kita senang-senang tapi tiba-tiba semua panitia pergi, berganti dengan panitia yang memakai pakaian beda, baju hitam. Nggak ada angin, nggak ada hujan mereka marah-marah, bentak-bentak kita semua. Kita ditanyain tentang materi selama mentoring, aku nggak masalah sih mereka tanya-tanyain hal itu tapi kan, emang harus banget ya pakai nada tinggi?

Di siang hari yang begitu terik, kita diminta untuk berdiri. Tiba-tiba teman kelompokku didatangi oleh panitia hitam, dagunya ditarik ke atas, menurutku itu kasar. Nggak pantes seorang lelaki memperlakukan perempuan kayak gitu, atau siapapun deh.

“Eh, liat nih. Lo semua pada mau punya adik kaya gini?” Waktu itu, panitia teriak keras, teman-temannya datang bergerombol.

“Wih, lengkap banget tuh muka lo. Emang ada yang bolehin lo pake make up?” Sambung temannya yang lain, temanku hanya diam.

Kita semua diam, nggak ada satupun yang berani melawan mereka.

“Lo di kampus ini mau belajar atau mau ngejablay?! Hapus tuh make up lo! Apa gue yang harus susut muka lo ke lapangan biar bersih?” Kasar.

Mereka kasih temanku tisu, mereka nggak layak jadi mahasiswa, mereka nggak layak jadi panitia, sama sekali. Tapi aku nggak berani ngelawan mereka, aku dan kita semua terlalu takut. Setelah acara selesai, nggak ada satupun dari mereka yang meminta maaf sampai detik ini.

Mereka yang tadinya kudambakan sebab begitu keren kemarin, kini aku jadi malas bertemu orang-orang seperti mereka. Sok jago, sok tegas tapi merendahkan martabat orang lain. Walaupun terkadang sesama perempuan, mereka nggak bisa tuh menghargai, setidaknya. Aku mengurungkan niatku untuk bergabung dengan segala macam jenis dan bentuk organisasi, aku benci mereka. Yang mereka lakukan setiap bulan adalah demo, demo, demo dan bakar ban. Mereka mau apa, sih? Seluruh elemen masyarakat pun tau kecacatan pemerintah pusat, lalu mereka apa? Memblokade jalan, dampaknya macet. Memang sebagai mahasiswa mereka nggak belajar tentang negosiasi? Mana hasil latihan kepemimpinan yang katanya untuk menciptakan pemimpin yang baik? Nol besar. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mendapatkan setitik perhatian dengan berbuat kacau. Suatu kewajiban mahasiswa untuk membantu rakyat dalam berkomunikasi dengan pembuat kebijakan, tapi kalau penghubungnya ngga bisa bernegosiasi dengan baik, untuk apa? Apakah saat ini demo menjadi suatu trend dikalangan mahasiswa?

Hari silih berganti dengan cepat, sekarang aku selangkah lagi menuju tahap menyusun skripsi. Aku sudah mulai menghubungi dosen pembimbingku, aku kadang kala melihatnya di kampus, namun tiap kali aku menghubungi beliau, agaknya beliau selalu sibuk. Karena semester enam sudah mau habis, satu hari aku memutuskan untuk langsung datang ke ruangan beliau, sambil membawa cemilan dengan niat untuk membicarakan judul skripsiku.

Kuketuk ruangan dingin dan nyaman itu.

“Selamat siang, Pak. Permisi.”

Beliau menyuruh untuk duduk, beliau juga sudah tahu maksud kedatanganku kesini untuk apa, karena di beberapa kesempatan sebelumnya, beliau selalu mengabaikanku,

“Jadi gimana? Siapa namanya?” tanyanya.

Ku perkenalkan diriku dan maksud tujuanku secara detail, tapi beliau hanya menjawab,

“Ya sudah, saya masih banyak kerjaan. Nanti kita ketemu di luar, saya kabari.”

Aku pulang kembali ke indekos dengan perasaan yang marah. Apa sulitnya meluangkan sedikit waktu buat dengerin aku jelasin judul dan latar belakangnya? Huft. Uang kuliah mahal, indekos mahal, biaya makan mahal, biaya tak terduga apalagi, aku mau pulang makanya aku mau cepat-cepat garap skripsi supaya bisa maksimal. Waktu lagi ngedumel di kasur sambil cerita sama mamah, notif dari dosenku masuk. Beliau mengirimkan alamat… Hotel? Di luar kota?

‘Apa beliau sambil ada acara lain?’ Tuturku dalam hati. ‘Ah, tapi aneh banget minta ketemu di Hotel, dikira gue ayam kampus?’ Batinku dan logikaku berperang sampai akhirnya aku memutuskan untuk tetap berangkat, tapi dengan membawa teman.

Aku nggak begitu punya banyak teman dekat sih, paling cuma sebatas ngobrol kalau ketemu aja, tapi akhirnya aku ajak mereka-mereka yang suka ngobrol sama aku, untungnya mereka mau. Akhirnya, kita ketemu di Kampus, aku jelasin kronologinya dan ternyata beberapa dosen pembimbing temanku pun sama, maksudnya sama seperti dosen pembimbingku tapi sebatas ngajak bertemu di Kafe, bukan Hotel. Kami berangkat sore itu, nggak jauh, hanya perjalanan satu jam.

Kukabari beliau, beliau menyuruhku untuk masuk ke Resto. Di sana beliau sedang makan, aku masih berpikir biasa aja waktu itu, walau deg-degan, aku mencoba untuk tetap tenang. Beliau menyuruhku untuk memesan, sambil menunggu, aku langsung membahas judul dan latar belakang, kami berdiskusi sekitar satu jam setengah. Beliau berkali-kali memastikan aku berangkat sendiri, padahal teman-temanku masih berada di luar, mereka makan di sebrang Hotel.

“Terima kasih atas waktunya, Pak. Saya pamit duluan ya,”

Aku pamit dengan lembut dan pelan, namun agaknya beliau sakit hati karena aku begitu buru-buru. Pergelangan tanganku ditarik pelan, ia menyuruhku untuk duduk lebih lama, sambil ia menyelesaikan pekerjaannya. Ku iyakan, tapi aku meminta salah satu dari mereka untuk masuk ke dalam Resto kala beliau mulai bertanya hal pribadi. Sampai sebelum akhirnya ia memintaku untuk menginap, temanku datang lebih dulu.

Begitu temanku datang, ia langsung meminta bill dari waiters kemudian langsung pergi. Setelah aku berkumpul dengan teman-temanku. Namun sayang, hari-hari setelahnya beliau semakin sulit dihubungi dan ditemui, karena sudah hampir terlewat satu semester, aku memutuskan untuk mengambil cuti.

Dunia yang kubayangkan adalah masa-masa terindah dalam pencarian jati diri, ternyata malah menjadi lingkaran setan yang mungkin tak berujung.

Penulis : Aya/BU

Editor : Uswa/BU

Tag: cerita pendekkampusKuliahospekskripsi
KirimBagikanTweetBagikan
Pos Sebelumnya

Cacat Pemberkasan, Ratusan Mahasiswa FKIP Gagal Ikuti Kampus Mengajar 2023

Pos Selanjutnya

Ini Petuah Rektor Untuk Wisudawan Gelombang 2 Untirta

BERITA TERKAIT

Terpidana Cinta di Teknik Kimia

Terpidana Cinta di Teknik Kimia

31 Mar. 2024
552
Waktu – Perjalanan

Waktu – Perjalanan

20 Agu. 2023
74
Pos Selanjutnya
Ini Petuah Rektor Untuk Wisudawan Gelombang 2 Untirta

Ini Petuah Rektor Untuk Wisudawan Gelombang 2 Untirta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Normalisasi Seksisme, Budaya yang Harus Dihentikan

Normalisasi Seksisme, Budaya yang Harus Dihentikan

14 Des. 2024
118
Beri Kontribusi pada Masyarakat, Hima PPKn Gelar Garuda 2022

Beri Kontribusi pada Masyarakat, Hima PPKn Gelar Garuda 2022

6 Agu. 2022
42

Berita Populer

Dosen Hukum Tanggapi Kasus Pelecehan Seksual Terduga Mahasiswa FEB

Dosen Hukum Tanggapi Kasus Pelecehan Seksual Terduga Mahasiswa FEB

8 Apr. 2026
132
Dekan FEB Bungkam, Mahasiswa Kritik Sikap Dekan Soal Pelecehan

Dekan FEB Sebut Serahkan Kasus Pelecehan pada Pihak Berwenang 

6 Apr. 2026
117
Ini Komentar Mahasiswa Soal Visi Misi Calon Dekan 2023-2027

Ini Komentar Mahasiswa Soal Visi Misi Calon Dekan 2023-2027

28 Nov. 2023
253
DPM FEB Untirta Tegaskan Pelaku Pelecehan Bukan Anggota Aktif

DPM FEB Untirta Tegaskan Pelaku Pelecehan Bukan Anggota Aktif

2 Apr. 2026
187

Mahasiswa dan Pimpinan Ormawa Untirta Sesalkan Kebijakan Kampus Adakan Kenaikan UKT 10% Bagi Mahasiswa Akhir dan Kenaikan SPI

4 Jul. 2022
327
Tragedi Kawin

Tragedi Kawin

20 Mei. 2022
4.8k

Komentar Terkini

  • Informatika pada Tim PVTE FKIP Untirta Raih Top 5 Inovator Nasional
  • - pada Dorong Pertanian Modern, PLPH 6 Untirta Gelar Seminar Hidroponik
  • Wyndjo pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumsar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum
  • Sumar pada Gibran Gandeng Dosen FH Untirta Hadapi Gugatan Hukum

BidikUtama.com

Redaksi Bidik Utama menerima karya berupa cerpen, opini, dan resensi. Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi/Universitas. Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi. Dikirim melalui email ke redaksi@bidikutama.com

Kategori

  • Akademik
  • Berita Mahasiswa
  • bidikutama
  • Cerita Pendek
  • Feature
  • FKIP
  • Hardnews
  • Inspirasi
  • IOC
  • Jalan-Jalan
  • Karya Mahasiswa
  • Kepolisian
  • Opini
  • Portugis
  • Prestasi Mahasiswa
  • Puisi
  • Pusat Studi Kepolisian
  • Resensi
  • softnews
  • Sosok
  • Suara Kita
  • Sudah Tahukah?
  • Tentang Bidik Utama
  • Usaha Mahasiswa
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Beranda
  • Berita Mahasiswa
  • Sudah Tahukah?
  • Akademik
    • Opini
  • Inspirasi
    • Sosok
    • Usaha Mahasiswa
  • Jalan-Jalan

© Bidik Utama. Hak Cipta dilindungi undang-undang. | Awan Studio