Bidikutama.com — Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiwa (KBM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mengecam adanya ancaman pembunuhan hingga penculikan yang dialami oleh Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM). Ancaman ini terkait kritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga persoalan pengiriman surat ke United Nation Children’s Fund (Unicef) terkait ironis siswa Sekolah Dasar (SD) memutuskan bunuh diri karna peliknya ekonomi. Rabu (11/3).
Dilansir dari detikjogja, selain mendapat ancaman pembunuhan hingga penculikan, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto, mengaku sempat mengalami penguntitan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.
“Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” ujarnya.
Tiyo juga mendapat upaya pembunuhan karakter dengan penyebaran isu dirinya yang tidak benar. Hal ini juga merembet ke ibu Tiyo mendapat pesan dari orang tidak dikenal. Sehingga ia menilai rentetan teror yang diterima merupakan bentuk dari kepengecutan rezim.
“Karena bagi kami sampai hari ini rezim tidak menyampaikan pesan publik apapun yang mengatakan bahwa kebebasan akademik Anda dijamin, perlindungan dan keselamatan Anda akan difasilitasi oleh negara,” ungkapnya.
Presiden Mahasiswa Untirta, Muhammad Ridham, menegaskan kecaman keras terhadap ancaman yang dialami Ketua BEM UGM menyampaikan seharusnya kampus menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik maupun aspirasi tanpa rasa takut terhadap intimidasi.
“Saya mengecam keras ancaman pembunuhan ancaman seperti ini tidak hanya menyerang individu, tetapi juga mengancam ruang kebebasan berpendapat kita sebagai mahasiswa yang merupakan bagian penting dari demokrasi,” tegas Ridham.
Ridham juga menegaskan bahwa pihak kampus harus memastikan adanya perlindungan dan pendampingan bagi mahasiswa yang mendapatkan ancaman. Selain itu, aparat penegak hukum diharapkan dapat segera menindaklanjuti laporan terkait ancaman tersebut dengan penyelidikan yang transparan dan terbuka.
“Pemerintah juga perlu menjamin bahwa kebebasan berpendapat tetap terlindungi dan tidak ada intimidasi terhadap aktivisme mahasiswa,” tegasnya.
Peristiwa tersebut tentu menimbulkan kegelisahan di kalangan mahasiswa. Namun, kejadian ini juga menjadi pengingat bagi gerakan mahasiswa untuk memperkuat kebersamaan serta memperluas jaringan gerakan di berbagai daerah.
“Supaya kita punya laporan cukup terperinci terhadap teror yang kami alami,” ucap Ridham.
Reporter: Ariani /BU
Penulis: Syahdan/BU
Editor: Aqila/BU










