Bidikutama.com – Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berencana akan menutup beberapa Program Studi (Prodi) yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Rencana ini disampaikan dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali pada Kamis (23/4). Kamis (30/4).
Dilansir dari Tempo, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menjelaskan bahwa akan ada beberapa prodi yang akan ditutup karena dianggap sudah tidak relevan.
“Ada beberapa prodi yang perlu kita pilah pilih dan kalau bisa ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri dilansir dari Tempo.
Badri juga menambahkan tingginya kesenjangan antara angka lulusan dengan kebutuhan di dunia kerja karena banyaknya kampus yang membuka prodi hanya berdasarkan minat pasar tanpa mempertimbangkan kebutuhan di dunia kerja salah satu contohnya yaitu prodi kependidikan.
“Kita kelebihan pasokan suplai di situ ” tambah Badri.
Badri juga berharap, pemerintah bisa mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan prodi yang masuk ke dalam dunia industrialisasi. Beberapa diantaranya yaitu energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju.
“Apa yang sebenarnya kita butuhkan akan segera disusun bersama,” harap Badri.
Sementara itu, Siti Nur Aliyaningsih, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), menilai bahwa rencana penutupan beberapa program studi oleh pemerintah terlalu menyederhanakan persoalan pengangguran dan pendidikan di Indonesia. Ia juga menilai bahwa pengangguran tidak hanya dipengaruhi oleh faktor jurusan, tetapi juga oleh ketersediaan lapangan pekerjaan dan kebijakan pemerintah itu sendiri.
“Banyak faktor yang mempengaruhi bukan hanya karena faktor jurusan,tapi juga faktor lapangan pekerjaan,” ujarnya
Ia juga mengatakan bahwa kebijakan ini bisa menimbulkan persoalan baru bagi Calon Mahasiswa Baru (Camaba) yang akan kebingungan dalam memilih program studi sesuai minat atau passion mereka.
“Mungkin bisa aja menambah masalah baru, kaya camaba bakal kebingungan memilih prodi,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menyusun kebijakan berdasarkan realita dan kondisi lapangan secara mendalam, bukan hanya berdasarkan kebutuhan sesaat semata.
“Pemerintah kalau buat kebijakan berdasarkan realita bukan cuma keputusan yang diambil sepihak, dan harus dikaji lebih dalam dan matang lagi,” harapnya.
Reporter : Moreno/BU
Penulis : Elsa/BU
Editor : Anindya/BU











