Bidikutama.com — Tuberkolosis (TBC) terkesan seperti penyakit masa lalu, nyatanya kini masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat untuk memerangi penyakit ini. Data terbaru dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia. Rabu (14/5)
Dilansir dari detik.com, TBC adalah penyakit infeksi menular yang menyerang paru-paru dan disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara, terutama saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Meski dapat disembuhkan, TBC masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Fakta ini menjadi pengingat serius bahwa kesadaran masyarakat, termasuk mahasiswa, sangat dibutuhkan untuk memerangi penyakit ini.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) yang dirilis awal tahun ini, Indonesia mencatat sekitar 1,06 juta kasus TBC pada tahun 2023. Ironisnya, lebih dari 40% kasus diperkirakan belum terdeteksi atau tidak dilaporkan, Ini berarti banyak orang yang mungkin membawa bakteri TBC tanpa mengetahui bahwa mereka harus menjalani pengobatan.
Munculnya stigma ke tengah permukaan peperangan penyakit ini dinilai penghambat utama penanganan TBC secara tepat, sehingga banyak pasien enggan berobat karena takut dijauhi oleh teman dan keluarga. Di sisi lain, kurangnya informasi juga membuat banyak masyarakat mengabaikan gejala awal seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, dan kelelahan berkepanjangan.
Rita Kusriani, Dokter dari Dinas Kesehatan, menyampaikan bahwa kampus sebagai wadah menuju perubahan meliputi peran mahasiswa itu sendiri, layaknya kampus menjadi tempat strategis untuk edukasi TBC. Ia juga menjelaskan bahwa mahasiswa punya peran penting sebagai agen perubahan menuju pemahaman kesehatan yang mumpuni.
Beberapa universitas di Indonesia mulai menggelar program skrining TBC bagi mahasiswa dan staf, serta mengadakan seminar kesehatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini. Langkah ini menjadi harapan agar generasi muda dapat ambil bagian dalam target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.
TBC bukan hanya persoalan medis, tetapi juga masalah sosial yang membutuhkan perhatian semua pihak untuk lebih waspada, saling mendukung, dan tidak lagi mengabaikan gejala yang muncul. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih awal, menyebarkan informasi yang benar, dan mendukung pengobatan hingga tuntas, kita semua dapat berperan dalam menghentikan rantai penularan TBC.
Penulis: Irin/BU
Editor: Nadira/BU











