Bidikutama.com — Hari raya idulfitri atau akrab disebut lebaran setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa rupanya kerap dibungkus dengan ucapan “taqabbalallaahu minnaa wa minkum, ja’alanallaahu wa iyyakum, minal ‘aa`idiin wal faa`iziin”. Apakah makna ucapan tersebut benar-benar mengandung kalimat ‘minal aidzin wal faidzin‘ sebagaimana selaras dengan lafaz tersebut?. Sabtu (21/3).
Dilansir dari rumahkitab.com, secara harfiah ucapan tersebut merujuk pada doa ataupun harapn kita berupa diterimanya amal ibadah kita meliputi puasa, salat, tadarus, itikaf, zakat dan ibadah lainnya selama bulan Ramadan. Sekaligus harapan sebagaimana kita dikelompokkan sebagai kaum yang tergolong orang yang kembali pada fitrah (al-‘aa`idiin) dan tergolong orang yang menang maupung beruntung (al-faa`iziin).
Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan, siapakah sosok yang menang tersebut sebagai berikut.
قَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْفَائِزِينَ قَالَ:” ذَرِ الدُّنْيَا وَخُذْ مِنْهَا كَالْمَاءِ الرَّاكِدِ فَإِنَّ الْقَلِيلَ مِنْهَا يَكْفِي وَالْكَثِيرَ مِنْهَا يُطْغِي
Seseorang berkata kepada Nabi Muhammad Saw: Ya Rasulallah, sesungguhnya aku ingin menjadi orang yang beruntung, Nabi menjawab: hindarilah dunia dan ambillah darinya seperti air yang tergenang, karena sesungguhnya sedikit air yang kita ambil sudah cukup, dan terlalu banyak mengambilnya akan membinasakan.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Vokasional Teknik Mesin (PVTM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), memaknai lebaran bukan hanya kembali kepada fitrah, tapi juga perjalanan fisik menuju kampung halaman setelah menjalani berbagai kesibukan.
“Setelah menjalani berbagai kesibukan, lebaran jadi waktu di mana bisa merasakan kembali kehangatan rumah yang jarang dirasakan”, ujar Syamsul.
Samsul juga mengungkapkan bahwa Ramadan telah mengajarkannya untuk lebih menghargai kebersamaan, dimana saat lebaran bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
“Saya merasa lebih bersyukur karena tidak semua orang punya kesempatan itu,” ungkapnya.
Berbeda dengan Mahasiswa Prodi Pendidikan Khusus Untirta, Ken Ibrahim Haikal, mengatakan bahwa perubahan yang ia rasakan setelah Ramadan yakni perubahan yang menuju lebih baik, meski menurutnya belum sepenuhnya maksimal.
“Seharusnya saya menjadi lebih baik, namun rasanya Ramadan kali ini belum bisa benar-benar menjadi titik balik untuk mengulang semua itu,” kata Ken.
Ken juga menuturkan terkait suasana lebaran yang sering dianggap ‘hambar’ oleh sebagian orang, bahwa maknanya sebenarnya akan tetap sama hanya saja waktu yang berupa zaman dan usia yang semakin dewasa.
“Saya merindukan suasana lebaran saat kecil, namun menyadari bahwa setiap masa memiliki nuansanya sendiri, ujarnya.
Ken mengaku bahwa fokus utama yang direfleksikan selama bulan Ramadan yakni puasa maupun amalan baik atau buruk.
“Merefleksikan amalan yang dilakukan untuk mencari celah apa yang perlu diperbaiki ke depannya,” tutupnya.
Reporter: Rafi /BU
Penulis: Abyan /BU
Editor: Anindya /BU











