Bidikutama.com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengonfirmasi sebanyak 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025. Temuan ini diperoleh melalui surveilans sentinel Influenza Like Illness–Severe Acute Respiratory Infection (ILI-SARI) dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS), Sabtu (10/1).
Subclade K merupakan varian yang mengalami pergeseran genetik (genetic drift) dari subclade J.2.4. Perubahan asam amino pada protein hemagglutinin (HA) membuat virus ini lebih sulit dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga berpotensi menyebar lebih cepat.
Subclade ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Dalam kondisi tertentu, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke beberapa orang di sekitarnya dalam waktu singkat.
Virus yang menular melalui udara ini telah menyebar ke delapan provinsi di Indonesia, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.
Secara global, subclade K telah beredar di lebih dari 80 negara, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Thailand, serta mendominasi sirkulasi influenza A (H3N2) di berbagai wilayah dunia.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa meskipun penyebarannya tergolong luas, virus ini belum menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Penilaian tersebut didasarkan pada evaluasi World Health Organization (WHO) serta data epidemiologi terkini.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, virus ini tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujar Prima.
Meski sempat dijuluki “super flu” di sejumlah media karena peningkatan deteksi kasus, hingga kini belum terdapat bukti bahwa subclade K menyebabkan keparahan klinis yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman pada umumnya.
Gejala yang muncul meliputi demam tinggi, batuk kering, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, kelelahan ekstrem, serta nyeri otot hebat. Secara umum, gejalanya menyerupai flu biasa, namun dapat berdampak lebih serius pada kelompok rentan.
Mayoritas kasus dilaporkan terjadi pada perempuan dan anak usia 1–10 tahun, dengan persentase mencapai 35 persen. Selain itu, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta juga termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan diri, meningkatkan daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok rentan. Masyarakat yang mengalami gejala flu juga disarankan untuk mengurangi mobilitas dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila gejala tidak membaik dalam waktu tiga hari.
Penulis: Sheril/BU
Editor: Intan/BU











