Bidikutama.com – Sebagian besar siswa di Indonesia tidak antusias dan takut dengan matematika. Rasa takut terhadap matematika terjadi karena kurang adanya keyakinan dan tingginya kecemasan terhadap kemampuan diri mereka. Oleh karena itu, guru berperan besar dalam memotivasi siswa untuk giat belajar matematika, seperti menggunakan metode pembelajaran yang baik. Untuk itu, Yohanes Surya mencetuskan metode pembelajaran matematika Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan). Selasa (2/7)
Metode Gasing merupakan inovasi yang dikembangkan oleh Yohanes Surya, Surya Institute, STKIP Surya dan SCLE (Surya Center for Learning Excellence). Dalam pembelajaran dengan metode ini, siswa diajak bermain games dan belajar dengan bantuan alat peraga. Kunci dari metode ini adalah proses bagaimana siswa belajar langkah demi langkah, sehingga penguasaan materi siswa dibangun dari pemahaman materi sebelumnya.
Terdapat lima tahapan pembelajaran dalam menerapkan metode Gasing, antara lain:
- Tahap pertama: Terjadinya dialog sederhana, yaitu siswa dirangsang stimulus dan responnya.
- Tahap kedua: Berimajinasi, yaitu guru membantu siswa untuk berimajinasi lewat persoalan kehidupan nyata sebagai permulaan pemberian materi.
- Tahap ketiga: Penyajian soal-soal yang relevan, yaitu siswa diberikan soal-soal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dengan tujuan melatih siswa menggunakan logika sederhana.
- Tahap keempat: Menyajikan materi secara mendalam, di sini siswa mulai mampu mengetahui fenomena-fenomena yang dibahas pada materi yang sedang dipelajari.
- Tahap kelima: Pemberian variasi soal, yaitu siswa diberikan variasi soal dengan menggunakan metode Gasing untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Pemikiran masyarakat terhadap cara belajar dengan Metode Gasing seringkali keliru. Kebanyakan orang mengira bahwa, siswa akan diajarkan trik-trik cepat untuk menjawab soal. Namun faktanya, Metode Gasing bukan mengajarkan trik-trik cepat, melainkan siswa diajarkan untuk memahami permasalahan mulai dari konsepnya dengan cara yang gampang, asyik dan menyenangkan, sehingga terciptalah pembelajaran bermakna.
Saat menjadi pembicara di TEDxJakarta, dengan topik “From Zero to Hero. A story of children and mathematics”, beliau menceritakan perjalanan bagaimana metode ini ditemukan dan akhirnya berdampak sangat besar bagi pelajar Indonesia, khususnya di daerah pedalaman Papua. Pada tahun 2008, beliau mulai mencari siswa ke Tolikara, tempat di mana indeks manusianya paling rendah di Indonesia saat itu. Beliau menemukan seorang siswa SMA yang belum bisa menghitung operasi perkalian 1-10, bahkan mengoperasikan penjumlahan masih belum lancar. Yohanes akhirnya meminta izin kepada pemerintah setempat agar anak daerah itu dibawa ke Jakarta untuk diberikan pelatihan. Hasilnya sangat mengejutkan, dalam waktu 6 bulan saja, siswa itu mampu menguasai seluruh materi SD, yang seharusnya diajarkan selama 6 tahun.
Yohanes meyakini bahwa kemampuan anak Papua tidak kalah saing dengan anak-anak kota. Beliau terus melakukan riset terkait metode tersebut, kemudian ia berkunjung kembali ke Papua dan meminta pemerintah setempat untuk memilih siswa-siswa yang dianggap ‘bodoh’ di sekolahnya, total siswa yang terpilih sejumlah 90 anak, mereka dibawa ke Jakarta dan diberikan pelatihan dengan menerapkan metode Gasing. Setelah beberapa tahun dilatih, para siswa dari Papua tersebut diikutsertakan ke berbagai Olimpiade, salah satunya matematika tingkat Asia, yaitu Asian Science and Mathematics Olympias for Primary School (ASMOPS), mereka memenangkan 4 medali gold, 5 medali silver, dan 3 medali perunggu. Selain itu, masih banyak pertandingan tingkat nasional yang mereka menangkan.
Beliau meyakini bahwa guru yang baik dan metode yang baiklah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Yohanes mengatakan “tidak ada anak bodoh di dunia ini yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang baik,” katanya.
Dengan demikian, mari kita bersama-sama memastikan agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, khususnya pada bidang matematika. Dengan guru yang baik serta metode yang baik, SDM yang berkualitas akan terbentuk dan masa depan bangsa yang cerah akan menanti kita.
Penulis: Agatha Mariska Panjaitan/Mahasiswi Pendidikan Matematika Untirta
Editor: Ardhilah/BU











